Cara Novelis Leiden Tulis Fiksi Sejarah dengan Gaya yang Ringan
Penulis asal Minangkabau yang juga kuliah jurusan Ilmu Filologi atau Studi Ilmu Filologi (studi naskah kuno) itu cerita dirinya adalah generasi baru yang mengambil1 ruang fiksi sejarah di Urban Forest, Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut cerita Harris, ia sudah mengambil kuliah sejarah dan ambil mata kuliah yang berhubungan dengan latar kelam di Indonesia. Misalnya saja, dari tahun 1965.
"Tahun 1965, ada angka korban 50 ribu orang dan sebagainya, tapi gak ada empati di sana. Kematian cuma memenuhi data statistik belaka. Kalau mau cari, ada di karya sastra," katanya.
"Kalau tentang kemanusiaan dan empati bisa menemukan di karya sastra saya dengan latar belakang Minangkabau. Perang Padri. Dalam karya sastra, gimana orang-orang ada dalam arus sejarah itu, menyampaikan perasaan sampai ke masa depan. Cara perpanjangan apa saja yang sudah terjadi di dlm bangsa ini," sambungnya.
Novel bergenre fiksi sejarah ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan memadukan kisah penelusuran naskah kuno Nusantara, kolonialisme, serta petualangan tokoh utama bernama Syamil.
Leiden 2020-1920 pun meraih juara 2 Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 2023.
Haris pun menuliskan pengalaman-pengalaman itu dengan bahasa yang ringan dan sederhana, serta dari POV generasi muda. Lewat novel Leiden, sebagai penulis ia gak mau memberikan tema yang berat dan klise bagi pembacanya.
"Sebagai penulis, gak mau memberikan yang cuma-cuma untuk pembaca dan gak menemukan apapun di sana, sayang sekali kan? Saya ingin mengisi ruang kosong dengan perspektif tema yang berat," ungkap Haris.
Di awal novelnya, ia langsung membukanya gak pakai prolog namun ke peristiwa. "Di dalam tulisan Leiden, saya berusaha memberikan istilah yang gak terlalu berat dinikmati oleh pembaca, karena wawasan pembaca beda-beda dan gak semuanya punya keterhubungan dengan sejarah," tukasnya.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
