Cerita Begok Oner Angkat Isu Lukisan Gua Tertua hingga Represi Aparat
Lewat lukisannya Urban Realism Layers, Begok berhasil menghadirkan berbagai lapisan isu dan cerita di atas kanvas tersebut. Eksplorasi media yang digaungkannya menjadi nilai tambah sampai memenangkan kompetisi.
"Di tahun 2023 itu saya mengangkat subject utama dalam karya saya itu, Abandoned Place. Dengan efek visual cermin cembung gitu. Terus di 2024, saya mencoba menggunakan beton asli, jadi saat itu ada penggusuran di Keraton, saya ambil beton-betonnya terus saya respons," katanya saat diwawancarai usai menerima penghargaan pada Kamis malam (24/9/2026).
Di momen itulah, ia baru melihat grafiti bisa digunakan sebagai medium yang demokratis. Karena di dinding itu kan ada tulisan-tulisan sepi, sumbung, turun, atau rungkat.
"Jadi ya kembali lagi masyarakat memakai grafiti sebagai medium untuk menyuarakan apa yang terjadi di luar. Nah terus berlanjut sampai akhirnya saya mengeksplorasi bagaimana ingin membuat tekstur tembok dengan media. Di 2021, saya sudah pernah memakai kanvas dan semen di karya saya, dan kali ini disempurnakan lagi," terangnya.
Di karyanya tertua pula, Begok Oner mengangkat isu lukisan gua tertua di dunia, yang nyatanya terbukti ada di Indonesia. Penemuan bersejarah ini buatnya terinspirasi buat menorehkan di atas kanvas. Ia juga mengangkat berbagai momen saat aparat merepresi.
"Di lapisan kedua lukisan, ada tulisan Stop Police Brutality. Aku menemukan tulisan itu ada di sebuah tempat di Yogya, tapi beberapa hari kemudian tulisannya hilang. Itu merespons kejadian itu, saat ada kejadian represif aparat," kata Begok.
"Masyarakat walaupun jauh, mencoba menyuarakan melalui medium yang terjangkau dan di konteks ini, grafiti digunakan sebagai mediumnya. Dan yang paling terbaru kayak Usut MKYK, di Yogya sekarang lagi ramai tembok-tembok jalanannya untuk mengusut Tuntas Korupsi Pembangunan Stadion Mandala Krida," ungkapnya.
Lukisan Urban Realism Layers memadukan lapisan gambar, kata-kata, dan jejak dari waktu ke waktu. Ia memakai semen plester dan tekstur berlapis sehingga ciptain kesan relier pada permukaan karyanya dan yang merefleksikan kondisi saat ini. Lukisannya bisa dilihat di The Melting Pot, Ashta District, SCBD, Jakarta hingga 10 Oktober 2026.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
