Round Up
Sutradara Film NAZA Dicap Pengkhianat Israel
Pencapaian Yuval Abraham dan Rachel Szor memicu amarah negara. Mereka juga mendapat ancaman soal status kewarganegaraannya. Hal ini diutarakan oleh Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar.
Secara terbuka, Miki Zohar menuding pasangan kreator pemenang Oscar tersebut melakukan tindakan pengkhianatan terhadap negara. Lewat unggahan di media sosial, dia menegaskan akan segera mengambil langkah hukum buat mereka.
"Saya akan bertindak secepatnya untuk mencabut kewarganegaraan Israel dari para pembuat film tercela ini atas pengkhianatan terhadap negara," tulis Zohar di akun X miliknya.
Ia juga menilai keduanya rela merugikan Tanah Air demi "menerima tepuk tangan dari kelompok anti-semit di seluruh dunia."
Kecaman bernada serupa datang juga dari Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Pria dari faksi sayap kanan itu menyindir keras keberhasilan dokumenter tersebut di kancah internasional.
"Kalian adalah aib dan penyesalan bagi seluruh rakyat Israel. Pergi sana! Saya yakin teman-teman kalian, maksud saya musuh kita, Hamas di Gaza, akan menyambut kalian dengan tangan terbuka," seru Ben-Gvir di media sosial.
Film NAZA merupakan dokumenter berdurasi 80 menit yang menguliti operasi militer Israel di Gaza lewat kecanggihan sistem artificial intelligence (AI). Judul film tersebut diambil dari kode intelijen Israel yang memprediksi kalkulasi angka kematian warga sipil dalam setiap gempuran udara.
Yang mengejutkan, dokumenter ini menghadirkan kesaksian langsung dari 24 whistleblower militer dan intelijen Israel. Mereka mengklaim adanya izin menggugurkan ratusan nyawa warga sipil demi memburu satu target anggota Hamas.
Saat tayang perdana di Festival Film Venesia, NAZA berhasil mencetak rekor baru dengan meraih standing ovation selama 25 menit nonstop.
Menanggapi gelombang ancaman dari negaranya, Yuval Abraham menegaskan keberanian mereka dalam memproduksi film ini.
"Kami mengambil risiko dalam sistem yang memberikan hak istimewa kepada kami, di mana supremasi Yahudi-Israel menjadi karakteristik utamanya," ungkap Abraham.
"Bagi begitu banyak warga Palestina, yang mendatangi rumah mereka bukanlah massa sayap kanan, melainkan buldoser dan senjata yang didanai AS."
Meski pihak militer Israel (IDF) menyatakan menolak secara tegas tuduhan dalam film tersebut dan mempertanyakan keabsahan saksi anonim yang ditampilkan, Yuval Abraham bersikukuh bahwa karyanya sangat penting untuk disaksikan oleh publik Israel sendiri.
(aay/tia)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
