Dokumenter Gaza 'NAZA' Cetak Rekor Standing Ovation Terlama di Venice Film Festival
Karya besutan sutradara asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor, ini meraih standing ovation (tepuk tangan berdiri) selama 24,5 menit usai penayangan pertamanya pada Kamis waktu setempat.
Capaian ini menjadi rekor standing ovation terlama sepanjang sejarah penyelenggaraan Venice Film Festival, sekaligus yang terpanjang dalam festival film bergengsi tingkat dunia.
Rekor sebelumnya dipegang oleh film The Voice of Hind Rajab garapan sutradara Tunisia, Kaouther Ben Hania, yang meraih tepuk tangan selama 22 menit pada edisi tahun lalu.
Sutradara pemenang Oscar lewat film The Zone of Interest, Jonathan Glazer, yang bertindak sebagai produser eksekutif NAZA, tampak memeluk Abraham dan Szor sembari memimpin tepuk tangan riuh di dalam aula.
Suasana penayangan perdana itu berlangsung haru dan khidmat. Kedua sutradara dan para penonton tak mampu menahan air mata, dengan beberapa penonton terlihat membentangkan bendera Palestina.
Dokumenter NAZA mengungkap secara mendalam sistem di balik pembunuhan massal terhitung terhadap warga sipil Palestina di Gaza oleh militer Israel.
Digarap secara rahasia pada malam hari di atap-atap gedung kawasan Tel Aviv, film ini menghadirkan wawancara eksklusif bersama 24 perwira intelijen dan tentara militer Israel.
Kata "NAZA" merupakan akronim internal intelijen Israel untuk menyebut collateral damage, atau jumlah korban sipil yang diprediksi akan tewas dalam suatu serangan udara.
Sebelumnya, Abraham dan Szor dikenal sebagai bagian dari tim sutradara film No Other Land yang sukses meraih piala Oscar 2025 untuk kategori Dokumenter Terbaik.
Dalam wawancaranya bersama Variety sebelum penayangan perdana, Abraham menegaskan alasan mendasar di balik pembuatan film dokumenter ini.
"Sebagai warga Israel, kami merasa perlu memanfaatkan posisi yang kami miliki, akses yang kami miliki terhadap orang-orang di masyarakat kami sendiri yang pernah masuk ke militer, untuk melihat sistem tersebut saat menjalankan apa yang oleh seluruh organisasi hak asasi manusia sebut sebagai genosida," ujar Abraham.
Film yang diproduksi oleh media Inggris The Guardian bersama James Wilson ini merupakan satu-satunya dokumenter panjang yang masuk dalam daftar kompetisi utama Venice Film Festival tahun ini.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
