Daftar Film Indonesia tentang Perjuangan, Cocok Ditonton Saat Libur Kemerdekaan
Buat kamu yang ingin mengisi libur Hari Kemerdekaan dengan tontonan yang punya cerita kuat, beberapa film berikut bisa masuk daftar.
Tanah Surga... Katanya (2012)
Tanah Surga... Katanya garapan Herwin Novianto mengangkat perjuangan mempertahankan rasa cinta tanah air di tengah kehidupan masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan.
Hasyim (Fuad Idris), mantan sukarelawan Konfrontasi Indonesia-Malaysia 1965, tinggal bersama anak dan cucunya dalam kondisi serba terbatas. Sementara anaknya, Haris (Ence Bagus), memilih tinggal di Malaysia karena menganggap kehidupan di sana lebih menjanjikan.
Di tengah kondisi tersebut, Hasyim tetap memilih bertahan di Indonesia. Ada pula Astuti (Astri Nurdin), guru yang mengajar di sekolah dengan fasilitas terbatas, serta dokter Anwar (Ringgo Agus Rahman) yang berusaha memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat.
Film ini mendapat label SU dan dapat ditonton di Vidio.
Baca juga: Long Weekend ke Bioskop, Ada Film Apa Aja? |
Sokola Rimba (2013)
Sokola Rimba garapan Riri Riza membawa cerita perjuangan dari tengah Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Film ini terinspirasi dari pengalaman Butet Manurung (Prisia Nasution) ketika mengajarkan baca, tulis, dan berhitung kepada anak-anak Orang Rimba.
Perjuangan Butet semakin kompleks ketika bertemu Bungo (Nyungsang Bungo), anak dari wilayah lain yang ingin belajar membaca agar dapat memahami surat perjanjian terkait tanah adat.
Keinginan tersebut mendapat penolakan karena sebagian masyarakat masih percaya pendidikan dapat membawa malapetaka. Meski begitu, Butet tetap berusaha memberikan akses pendidikan kepada Bungo dan masyarakat Orang Rimba.
Film ini mendapat label SU dan tersedia di Netflix serta Prime Video.
Kartini (2017)
Kartini garapan Hanung Bramantyo mengangkat perjuangan R.A. Kartini dalam memperjuangkan pendidikan, kesetaraan, dan hak perempuan pada awal 1900-an.
Kartini (Dian Sastrowardoyo) tumbuh dalam lingkungan yang membuat perempuan pribumi memiliki akses pendidikan sangat terbatas. Ia juga melihat ibunya, Ngasirah (Christine Hakim), diperlakukan sebagai orang rendahan karena tidak memiliki darah ningrat.
Kegemarannya membaca dan berdiskusi kemudian mendorong Kartini untuk memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Bersama Roekmini (Acha Septriasa) dan Kardinah (Ayushita), ia mendirikan sekolah bagi masyarakat miskin sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Jepara.
Film ini mendapat label R13 dan dapat ditonton di Vidio.
Bumi Manusia (2019)
Bumi Manusia membawa perjuangan melawan diskriminasi dan ketidakadilan kolonial melalui pendidikan, tulisan, serta keberanian bersuara.
Film garapan Hanung Bramantyo ini mengikuti Minke (Iqbaal Ramadhan), pemuda pribumi yang berkesempatan mengenyam pendidikan di HBS. Ia kemudian dekat dengan Annelies (Mawar de Jongh), gadis Indo-Belanda sekaligus putri Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).
Ketika hukum kolonial berusaha memisahkan Annelies dari keluarganya, Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha melawan ketidakadilan tersebut.
Film ini mendapat label 17+ dan dapat ditonton di Netflix.
Budi Pekerti (2023)
Budi Pekerti garapan Wregas Bhanuteja membawa isu perjuangan ke situasi yang lebih dekat dengan kehidupan masa kini. Kali ini, perjuangan tersebut berkaitan dengan martabat, keluarga, dan pekerjaan di tengah budaya penghakiman di media sosial.
Prani (Sha Ine Febriyanti), seorang guru BK, menghadapi masalah setelah video perselisihannya dengan seorang pengunjung pasar viral. Hujatan pun berdatangan hingga pekerjaannya ikut terancam.
Kedua anaknya, Tita (Prilly Latuconsina) dan Muklas (Angga Yunanda), berusaha membantu Prani menghadapi persoalan tersebut. Mereka juga berusaha melindungi Didit (Dwi Sasono), ayah mereka yang tengah mengalami depresi.
Film ini mendapat label 13+ dan dapat ditonton di Netflix.
Eksil (2024)
Eksil garapan Lola Amaria mengangkat kisah mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dengan beasiswa pemerintah Presiden Soekarno pada 1965.
Peristiwa politik pada tahun tersebut membuat mereka tidak dapat kembali ke Indonesia. Para pelajar dan mahasiswa ini kemudian tersebar di berbagai negara, termasuk China, Uni Soviet, Belanda, Cekoslowakia, Jerman, dan Swedia.
Sebagian dari mereka kehilangan kewarganegaraan dan harus menjalani hidup jauh dari keluarga serta tanah air. Selama puluhan tahun, mereka menjadi eksil dan menghadapi perjuangan mempertahankan identitas sekaligus kerinduan untuk kembali ke Indonesia.
Eksil mendapat label 13+ dan sebelumnya telah ditayangkan melalui pemutaran terbatas di sejumlah bioskop Indonesia.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
