Supergirl Gagal, CEO Warner Bros Tegaskan Masa Depan DC Tetap Cerah

Asep Syaifullah
|
detikPop
Supergirl (2026).
Foto: Dok. Warner Bros
Jakarta - Sinyal bahaya sempat menyala bagi masa depan waralaba film DC setelah performa finansial film terbaru mereka, Supergirl, berakhir tragis di bioskop musim panas ini.

Meski demikian, Pimpinan Eksekutif (CEO) Warner Bros. Discovery (WBD), David Zaslav, menegaskan bahwa kepercayaan pimpinan studio terhadap visi jangka panjang yang diusung James Gunn dan Peter Safran sama sekali tidak goyah.

Dalam sesi pemanggilan laporan keuangan (earnings call) kuartal perusahaan yang digelar pada Kamis (6/8/2026), Zaslav secara terbuka menanggapi kekhawatiran para investor dan pengamat industri hiburan mengenai masa depan waralaba pahlawan super tersebut.

Meski sengaja menghindari pembicaraan langsung mengenai kegagalan komersial Supergirl, Zaslav memilih untuk berfokus pada potensi proyek-proyek mendatang yang ia klaim memiliki deretan lini produksi (pipeline) yang sangat solid dan menjanjikan.

Guna meyakinkan para pemegang saham, Zaslav membeberkan perkembangan dari dua proyek bioskop terbesar yang paling diantisipasi publik saat ini: sekuel Superman garapan James Gunn yang diberi judul Man of Tomorrow, serta proyek mandiri karya Matt Reeves, The Batman: Part II.

"Di lini DC, James saat ini sedang memfokuskan seluruh energinya untuk 'Man of Tomorrow'. Saya baru saja melihat beberapa gambar konsep dan materi visual kemarin, dan hasilnya benar-benar luar biasa," ujar Zaslav.

"Bahkan kemarin, di hari ulang tahunnya sendiri, James tetap berada di lapangan dan bekerja 16 hingga 18 jam sehari. Kami sangat bersemangat menantikan hasilnya. Selain itu, saya juga baru saja berkomunikasi dengan Matt Reeves akhir pekan lalu, dan dia sedang bekerja sangat keras menggarap 'The Batman'."

Supergirl (2026).Supergirl (2026). Foto: Dok. Warner Bros

Menariknya, dalam panggilan konferensi kali ini, Zaslav tidak lagi secara eksplisit mengagung-agungkan rencana 10 tahun DC seperti yang kerap ia gaungkan pada laporan keuangan periode-periode sebelumnya.

Kendati demikian, ia menjamin bahwa ekosistem DC Studios secara keseluruhan berada dalam kondisi yang sangat sehat.

Pukulan Telak Supergirl bagi DCU Baru

Pernyataan optimis Zaslav datang di tengah situasi sulit bagi DC Studios. Supergirl, yang disutradarai oleh Craig Gillespie dan dibintangi oleh Milly Alcock, tadinya diharapkan menjadi pilar penguat bagi alam semesta baru DC (DCU) yang baru saja dimulai lewat kesuksesan film Superman tahun lalu.

Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Film tersebut mendapatkan respons dingin dari para kritikus film dan gagal menarik minat penonton secara luas.

Dengan anggaran produksi raksasa yang membengkak hingga melebihi USD 170 juta (belum termasuk biaya pemasaran global), Supergirl tercatat hanya mampu meraup pendapatan kotor sebesar USD 126 juta secara global.

Angka tersebut menempatkan Supergirl sebagai salah satu kegagalan finansial terbesar (box office bomb) bagi Warner Bros. dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi ini kian menekan posisi kepemimpinan James Gunn dan Peter Safran. Terlebih lagi, lanskap korporasi Warner Bros. Discovery sendiri saat ini tengah berada dalam ketidakpastian seiring berhembusnya rumor potensi akuisisi atau perubahan struktur pimpinan jika proses kesepakatan dengan Paramount rampung dalam waktu dekat.

Untuk menutup kekosongan dan mengembalikan kepercayaan publik, DC Studios mengandalkan strategi diversifikasi konten, baik melalui layar kaca maupun film beranggaran lebih efisien.

Serial 'Lanterns' (HBO)

Strategi pemulihan terdekat akan dimulai dari layar kaca. DC Studios bersama HBO siap meluncurkan serial drama Lanterns dalam beberapa minggu ke depan.

Berfokus pada karakter Green Lantern dengan pendekatan cerita ala drama investigasi True Detective, serial yang dibintangi oleh aktot veteran Kyle Chandler dan Aaron Pierre ini menjadi salah satu proyek yang paling diunggulkan oleh petinggi HBO, Casey Bloys dan Sarah Aubrey.

Film Horor 'Clayface' (Oktober 2026)

Di layar lebar, langkah berikutnya dari DC terbilang cukup unik. Mereka akan merilis Clayface pada Oktober 2026 mendatang.

Berbeda dari film pahlawan super pada umumnya, Clayface dikemas sebagai film horor bertema body horror dengan anggaran yang tergolong rendah (low-budget).

Sutradara James Watkins dipercaya memimpin proyek ini berdasarkan naskah yang ditulis oleh maestro film horor Mike Flanagan.

Proyek ini awalnya tidak masuk dalam cetak biru utama Gunn dan Safran, namun langsung diberi lampu hijau setelah Flanagan mempresentasikan konsep cerita yang dinilai sangat segar dan matang.

Nama besar DC tetap terletak pada proyek-proyek berskala besar di tahun-tahun mendatang:

'Man of Tomorrow' (Juli 2027): Sekuel langsung Superman yang kini telah memasuki tahap produksi aktif. Film ini diharapkan mampu mengulangi kesuksesan finansial dan kritik dari film pertamanya.

'The Batman: Part II' (Februari 2028): Proyek karya Matt Reeves yang dibintangi Robert Pattinson ini dipastikan berdiri di luar kontinuitas utama DCU (Elseworlds).

Sempat ditargetkan tayang pada musim gugur 2026, jadwal rilis film ini resmi digeser ke awal tahun 2028 guna memberikan waktu penyempurnaan naskah dan produksi.

Dengan deretan proyek yang bervariasi mulai dari serial TV, film horor bernuansa eksperimental, hingga film blockbuster bernilai ratusan juta dolar, Warner Bros. Discovery berharap dapat membuktikan bahwa kegagalan Supergirl hanyalah batu sandungan kecil dalam perjalanan panjang membangun ulang takhta DC di industri perfilman dunia.

(ass/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO