Karya Sastra Klasik Indonesia Mendunia, Diterjemahkan ke Bahasa Inggris
"Acara peluncuran terjemahan 6 karya klasik Indonesia merupakan bagian dari Direktoral Jenderal Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan. Karena sastra jadi perkembangan ekosistem bersama dalam MTN, yang akan berkembang dari hulu ke hilir," kata Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat ditemui di acara Sasana Sastra: Membaca Karya Klasik Indonesia di Gedung A, Rabu (2/7/2026).
Proses hulu ke hilir yang dicanangkan mulai dari proses penerbitan, penerjemahan, promosi sastra, ruang apresiasi atau festival sampai tumbuhnya komunitas karya tersebut. "Selama ini sudah lahir dari para pelaku, kita menghargai ikhtiar tersebut dan mau ambil peran melalui kebijakan berkelanjutan," sambungnya.
Sejauh ini, Kementerian Kebudayaan sudah meningkatkan 18 festival sastra penting di Indonesia melalui konsorsium internasional, mendorong 3.255 karya sastra terpilih didistribusikan melalui 35 kantong komunitas sastra terbesar di Indonesia.
"Kita juga terus berupaya membuka kemungkinan internalisasi, dengan penerjemah dan penulis muda di festival internasional dan memberikan Translation Funding Program (TFP)," sambungnya.
Keenam karya sastra klasik yang diterjemahkan ini bakal diboyong Kementerian Kebudayaan ke ajang Abu Dhabi International Book Fair. Di momen itu, Indonesia menjadi guest of honour akhir tahun mendatang.
Keenam karya klasik tersebut adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang diterjemahkan oleh Annie Tucker, Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais terjemahan Syarafina Vidyadhana, Tanah Gersang karya Mochtar Lubis terjemahan Zoe McLaughlin, Dua Dunia karya NH Dini terjemahan Saut Situmorang; kumpulan puisi Balada Orang-orang Tercinta karya WS Rendra penerjemah Lara Norgaard, serta Surat Kertas Hijau karya Sitor Situmorang yang diterjemahkan oleh Suzan Piper.
Sasana Sastra: Membaca Klasik Indonesia dihadiri oleh jajaran maestro dan pegiat sastra, yakni Taufiq Ismail, Taufik Abdullah; serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia periode 1993-1998, Wardiman Djojonegoro.
(tia/pus)
