Paviliun Indonesia Dapat Apresiasi di Venice Biennale 2026

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Seni Cetak Grafis Paviliun Indonesia Menggema di Venesia
Foto: Dok./indonesiapavilionvb2026
Jakarta - Paviliun Indonesia kembali hadir di ajang dua tahunan, Venice Biennale 2026. Mengusung tema Printing the Unprinted, Paviliun Indonesia menampilkan karya seni 7 seniman Tanah Air yang melakukan residensi 2 bulan di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia.

Dikuratori oleh Aminudin TH Siregar, Paviliun Indonesia selama 6 bulan itu jadi momen penting dan ranah seni rupa. Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, cerita pamerannya sudah dibuka dan mendapatkan respons luar biasa.

"Mereka telah berkarya residensi di sana, dan respons luar biasa setiap hari itu datang di atas 300. Rata-rata mereka lebih apresiatif," ucap Fadli Zon di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2026).

Pameran yang juga berkolaborasi dengan pihak sekolah seni grafis di Scuola Internazionale di Grafica, Venesia, jadi nilai plus.

"Pameran-pameran lain ada di Arsenale dan Giardini, tapi pameran kita dapat apresiasi yang luar biasa karena berkaryanya di situ, berkolaborasi bahkan," ucapnya.

"Kita juga mengundang 7 seniman atau seniman dari bagian Manajemen Talenta Nasional (MTN) dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Papua. "Mereka juga mentorship nih sama yang baru-baru," sambungnya.

Menurut pengakuan Fadli Zon, selama pekan pembukaan, banyak tokoh yang menghadiri Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026.

"Jadi alhamdulillah di Venice Biennale ini sambutan untuk Paviliun Indonesia luar biasa besar, apresiatif yang datang juga kurator-kurator, direktur-direktur festival, ada Menteri Kebudayaan yang datang pada waktu pembukaan, ada duta-duta besar. Dan kita berharap ini bisa berlangsung dengan baik sampai pamerannya nanti 22 November," tukasnya.

Dengan mengusung narasi epik pelayaran besar abad ke-15, para seniman dalam Paviliun Indonesia menghidupkan kembali kisah pelayaran selama 14 tahun (1472-1486). Karya ini diciptakan secara secara bersama atas kolaborasi tujuh seniman, di antaranya Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, RE Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Pameran di Paviliun Indonesia ini bercerita tentang perjalanan armada yang bertolak dari Danau Toba, menyusuri pesisir Sumatera Barat, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Aleksandria, dan hingga akhirnya mencapai Venesia dan Eropa Tengah.

Armada tersebut terdiri atas tiga kapal luar biasa, yaitu: Siboru Deak Parujar (Dewi Pencipta Batak) sebagai kapal induk; Naga Padoha (Ular Kosmik) sebagai kapal pengawal; dan Sahala ni Ombak (Roh Ombak) yang didedikasikan untuk penjelajahan ilmiah. Seluruh kisah ini dikisahkan melalui sudut pandang Datu Na Tolu Hamonangan, seorang arsiparis imajiner dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatera.

Ia mendokumentasikan perjalanan ini dalam manuskrip Printing the Unprinted: The Story of the Grand Voyage. Selama berabad-abad, manuskrip ini menyimpan misteri, yaitu himpunan cetakan etsa, gambar, sketsa dan teks yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai. Manuskrip ini memuat 21 etsa yang dibagi ke dalam 8 babak membentuk narasi yang kaya dari berbagai sudut pandang.


(tia/aay)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO