Mark Ruffalo Mengaku Diblacklist Usai Tolak Merger Paramount-Warner Bros
Dalam podcast terbaru I've Had It, pemeran karakter Hulk dalam Marvel Cinematic Universe tersebut mengungkapkan ia merasa perlu untuk terus bersuara meskipun menyadari risiko yang mengancam kariernya.
"Saya melakukan ini karena saya tahu kami harus melakukannya. Saya tahu apa pun yang terjadi, jika saya tidak bersuara, hasilnya akan sama saja. Saya merasa sudah masuk dalam daftar hitam. Saya sudah bukan lagi teman bagi orang-orang ini. Jadi, pilihannya adalah bertarung atau menyerah. Namun, hasil akhirnya akan sama saja jika Anda tidak melawan. Begitulah cara menghadapi setiap perundung di dunia ini," kata Mark Ruffalo dikutip detikcom, Minggu (17/5/2026).
Mark Ruffalo juga menceritakan pengalamannya saat menyebarkan surat terbuka yang mengutuk penggabungan Paramount dan Warner Bros pada April 2026 lalu. Ia mengakui pada awalnya banyak pihak di Hollywood yang merasa sangat ketakutan untuk membubuhkan tanda tangan dukungan mereka.
"Banyak orang yang sejak awal takut untuk menandatanganinya. Mereka takut karena, mengutip pernyataan salah satu agen terkemuka yang namanya tidak akan saya sebutkan di sini, keluarga Ellison adalah orang-orang yang sangat pendendam," beber Mark Ruffalo.
Meskipun sempat ada keraguan di awal, ia menjelaskan perlahan-lahan para pelaku industri Hollywood mulai berani untuk muncul dan menunjukkan sikap mereka. Ia menekankan dampak dari merger besar di masa lalu, seperti penggabungan Fox dan Disney, telah memberikan pelajaran pahit bagi para pekerja seni.
"Apa yang kami ketahui adalah bahwa keberanian itu menular, dan ada keamanan jika kita bergerak bersama dalam jumlah besar. Banyak orang dalam surat ini adalah mereka yang memiliki posisi kuat seperti saya, namun ada juga orang-orang yang justru tidak punya pilihan selain bertarung karena mereka sedang memperjuangkan nasib pekerjaan mereka. Risikonya sangat tinggi. Kami tahu apa yang terjadi saat merger dilakukan, mulai dari hilangnya lapangan pekerjaan hingga pembatalan banyak proyek film yang sedang dikembangkan," jelas Mark Ruffalo.
Selanjutnya pada Mei 2026, ia juga menulis sebuah kolom opini di surat kabar The New York Times untuk mengajak komunitas film menolak pengejaran Paramount-Skydance terhadap Warner Bros.
Dalam tulisan tersebut, ia menyoroti ketakutan yang menyelimuti para aktor dan pembuat film terhadap potensi aksi balasan dari pihak studio.
"Hal yang paling mengungkapkan dari surat tersebut bukanlah orang-orang yang menandatangani, melainkan mereka yang tidak menandatanganinya. Bukan karena mereka tidak setuju, melainkan karena mereka merasa takut. Kami percaya alasan paling mendasar untuk memblokir kesepakatan ini adalah rasa takut mendalam yang meresap di kalangan seniman untuk berbicara secara terbuka," tulis Mark Ruffalo dalam kolom opininya.
(ahs/ass)











































