Round Up
Baliho Film Aku Harus Mati Kontroversial Meski Gak Langgar Aturan
Produser film ini, Iwet Ramadhan, menegaskan visual dan materi promosi sudah sesuai aturan. Penilaian sudah dilakukan dari lembaga pemerintah sebelum akhirnya dilempar ke publik.
"Seluruh cast itu mengapresiasi yang sangat dalam kepada Lembaga Sensor Film dan juga Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Kenapa? Karena semua materi kita sudah dievaluasi sama mereka, sudah dievaluasi lalu kemudian diberikan persetujuan," kata Iwet Ramadhan dalam wawancara virtual akhir pekan lalu.
Dia juga menegaskan kalau penurunan materi promosi bukan karena tekanan. Tapi memang sudah sesuai dengan jadwal strategi pemasaran yang disusun tim promo.
Iwet kemudian membahas soal tudingan dirinya gak sensitif atas respons publik terkait materi promosi filmnya. Baginya, mengikuti aturan main dan fase promosi yang legal jauh lebih penting ketimbang terlibat dalam perselisihan medsos yang berpotensi menjadi blunder bagi filmnya.
"Kita tidak mau reaktif menanggapi isu-isu yang terjadi. Kenapa? Karena kalau misalnya kita reaktif, kita bergerak secara sporadis, malah nanti blunder gitu. Sehingga balik lagi kan nggak elok kalau kita perangnya di medsos. Jadi makanya kita betul-betul ikuti aturan, kita ikuti fase-fasenya baru kemudian setelah semuanya beres ya kita bicara," terangnya.
Baliho film Aku Harus Mati itu menuai kontroversi karena dianggap men-trigger pengidap depresi dan masalah kejiwaan. Hal ini jadi trigger buat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) untuk mengeluarkan pernyataan keprihatinan resmi.
PDSKJI menilai bahwa kalimat-kalimat bernuansa keputusasaan di ruang terbuka dapat menjadi pemicu (trigger) yang berbahaya bagi individu dengan kerentanan mental. Apalagi penempatannya di ruang publik yang dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk anak-anak, remaja, hingga mereka yang sedang berjuang melawan depresi.
Paparan pesan kematian tanpa konteks yang tepat dikhawatirkan dapat meningkatkan kecemasan secara kolektif.
"Paparan berulang pesan tentang kematian dan keputusasaan tanpa konteks yang tepat dapat meningkatkan distres, kecemasan, dan berpotensi menjadi pemicu bagi mereka yang memiliki riwayat depresi atau ide bunuh diri," tulis Humas PP PDSKJI dalam rilis resminya.
Satpol PP DKI turun tangan setelah muncul protes. Mereka menurunkan baliho-baliho tersebut di sejumlah titik jalanan.
Kasatpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan biro reklame yang menayangkan iklan tersebut.
"Sudah, sudah, iya. Jadi kita sudah koordinasi sama biro reklamenya untuk segera menurunkan. Betul, betul (yang menurunkan bilboard pihak biro)," kata Satriadi ketika dihubungi, Minggu (5/4/2026).
(aay/mau)











































