Hana Saraswati Lebih Sensitif Usai Syuting Aku Harus Mati
Diproduseri oleh Irsan Yapto dan Nadya Yapto, serta disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat urban, khususnya fenomena jual jiwa demi harta dan validasi sosial.
Hana Saraswati menjadi pemeran karakter utama, yakni Mala. Dia menilai isu yang diangkat film ini sangat relevan dengan kondisi saat ini.
"Menurut aku jual jiwa demi harta itu banyak sih yang dekat sama kita sekarang. Konotasinya adalah kita ngejual ketenangan batin sendiri untuk hal-hal yang sebenarnya kita juga nggak perlu-perlu amat," kata Hana Saraswati dalam press screening di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (26/3/2026).
Hana menyinggung fenomena pinjaman online hingga hubungan sosial yang didasari validasi semata. Menurutnya, ketenangan batin jauh lebih penting dibanding sekadar validasi sosial.
"Seperti pinjol gitu atau hubungan dengan orang sekarang banyak. Apalagi pinjol sekarang mudah banget, bisa datang lewat SMS atau WhatsApp. Sangat dekat dan semoga ini jadi himbauan juga buat semuanya. Apa juga sih fungsinya validasi sebenarnya?" tambahnya.
Hana juga membagikan pengalaman berkesan saat mata batinnya dibuka dalam film tersebut. Pengalaman itu membekas pada dirinya.
"Aku bisa bilang scene itu adalah salah satu scene yang paling berkesan buat aku. Karena meninggalkan kesan yang cukup lama hingga satu tahun kemudian," ungkapnya.
Ia menjelaskan proses syuting dilakukan dengan konsultasi bersama ahli agar ritual yang ditampilkan sesuai praktik sebenarnya. Namun, ia mengaku menjadi lebih sensitif setelahnya.
"Memang saat terjadi di scene itu tidak ada rasa apa-apa, tapi setelah pulang dari sana kok aku mendadak jadi jauh lebih sensitif terhadap hal-hal yang mistis," katanya.
Hana mengaku sebelumnya tidak dekat dengan hal-hal gaib. Namun, pengalaman syuting membuatnya merasakan perubahan.
Eksekutif Produser Irsan Yapto menegaskan film ini merupakan cerminan fenomena yang marak terjadi di masyarakat modern.
"Aku Harus Mati adalah film horor yang ceritanya paling dekat dengan kehidupan manusia modern. Banyak masyarakat sekarang rela mengorbankan diri dan jiwa demi validasi dan harta sampai terlilit hutang pinjol, paylater, dan lain-lain," ujarnya.
Hestu Saputra sang sutradara menyebut film ini ingin menunjukkan soal teror sesungguhnya berasal dari dalam diri manusia.
"Film ini adalah refleksi dari fenomena jual jiwa demi harta. Teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup," kata Hestu.
Sinopsis
Film yang ditulis oleh Aroe Ama ini mengikuti kisah Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang terjebak dalam gaya hidup hedonistik.
Demi mengejar kemewahan, ia terjerumus dalam lingkaran utang pinjaman online dan paylater. Dalam keputusasaan, Mala kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan dan bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta Ki Jago (Bambang Paningron).
Namun, ketenangan yang ia cari justru berubah menjadi petaka ketika mata batinnya terbuka secara misterius. Mala harus menghadapi kenyataan kelam tentang asal-usulnya, termasuk perjanjian iblis yang mengorbankan orang-orang terdekat demi kesuksesan.
Dengan perpaduan horor dan kritik sosial, Aku Harus Mati diharapkan menjadi tontonan yang tak hanya menegangkan, tetapi juga memberikan refleksi bagi penonton tentang makna hidup dan validasi di era modern.
(fbr/pus)











































