Na Willa: Dunia Anak yang Penuh Imajinasi
EDITORIAL RATING
AUDIENCE RATING
Sinopsis:
Na Willa (Luisa Adreena) adalah kisah tentang kehidupan anak perempuan yang ceria dan penuh rasa ingin tahu. Mengambil latar tahun 60-an, Na Willa tumbuh dengan Mak (Irma Rihi) dan Pak (Junior Liem) yang bekerja di laut. Kehidupan sehari-hari Na Willa begitu menggembirakan.
Ia menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Dul, Ida dan Bud. Na Willa juga senang sekali jika diajak pergi oleh Mak ke pasar. Na Willa juga suka sekali buku. Na Willa sudah bisa membaca sebelum masuk sekolah.
Na Willa (2026) Foto: Dok. Visinema Pictures |
Namun, di tengah kegembiraan itu, terkadang dunia Na Willa pun bisa dirundung kesedihan. Na Willa harus siap menerima kekecewaan ketika Dul terkena celaka.
Diangkat dari novel karya Reda Gaudiamo, Na Willa akan memandu penonton untuk memahami dunia anak dari imajinasi mereka.
Baca juga: Hoppers: Avatar Tapi Binatang Gemas |
Review:
Setelah sukses dengan Jumbo, sepertinya Ryan Adriandhy memang tak pernah puas untuk mengeksplorasi dunia anak. Na Willa menjadi bukti dari penjelajahan baru Ryan di dunia imajinasi anak. Na Willa mampu membawa penonton untuk masuk ke dalam dunia imajinasi anak yang ajaib.
Ryan memang tepat sekali untuk mengarahkan film ini. Sebab, Ryan paham betul cara untuk menggambarkan isi kepala Na Willa dengan indah. Ambil saja contoh scene Na Willa saat membayangkan ikan bandeng dengan banyak mata. Efek animasi bandeng bermata banyak itu muncul dengan sentuhan teknik grafis yang lembut.
Ryan sepertinya juga terinspirasi dengan gaya sutradara favoritnya, Wes Anderson. Hal ini terlihat dari warna-warni cerah dan gaya naratif di salah satu scene Na Willa. Ada banyak pernak-pernik jadul dengan balutan warna cerah. Ryan memakai gaya 'mise-en-scène' a la Wes Anderson saat Na Willa membacakan surat dari Pak. Penggunaan teknik ini terasa begitu pas.
Na Willa (2026) Foto: Dok. Visinema Pictures |
Bagian lain yang menarik tentu saja dari unsur musikal di film ini. Ada satu lagu yang dinyanyikan Na Willa bersama Dul saat di rumah sakit. Lagunya enak didengar dan melengkapi nuansa kegembiraan yang sejak awal ingin terus dihadirkan.
Kemudian untuk segi cerita, penulisannya tak terlalu mengkhianati cerita asli bukunya. Bagi yang sudah membaca bukunya, film ini membuat proses alih wahana itu begitu serasi. Penonton bisa langsung melihat isi kepala Na Willa yang diceritakan dengan cerewet oleh gadis 6 tahun itu.
Penonton bisa memasuki keseharian Na Willa, emosi Na Willa saat senang dan sedih, kebingungan Na Willa sampai kejujuran dan kepolosan khas bocah.
Baca juga: The Bride! Ini Dia Istrinya Frankenstein |
Bonding Na Willa dengan Mak juga tak dipaksakan. Keduanya terlihat seperti ibu dan anak sungguhan. Tak tampak jarak antara keduanya. Bahkan emosinya pun sangat nyata. Wajar jika nanti penonton akan ikut hanyut dalam relasi emosi anak-ibu itu.
Secara sederhana, Na Willa bisa disebut sebagai film yang telah memenuhi semua syarat film anak dan keluarga. Ada kelucuan, ada kisah persahabatan, kisah anak-orang tua, kisah keberanian, kehangatan keluarga dan tentu saja nilai-nilai mulia yang disampaikan secara tersirat.
Na Willa (2026) Foto: Dok. Visinema Pictures |
Na Willa tak akan membuat penonton merasa digurui. Na Willa justru akan memandu penonton untuk menemukan 'anak kecil' dalam dirinya. Anak kecil yang polos, penuh tanda tanya dan berani mengeksplorasi rasa ingin tahunya.
Tanpa sadar, barangkali penonton dewasa akan merasa ingin kembali ke masa kanak-kanak seperti masa Na Willa, ketika hidup hanya soal bermain dan belajar.
Na Willa memang cocok menjadi sajian tontonan Lebaran. Film ini hangat sekaligus penuh pelajaran berharga.
| Genre | drama |
| Runtime | 118 minute |
| Release Date | 18 March |
| Production Co. | Visinema Studios |
| Director | Ryan Adriandhy |
| Writer | Na Willa oleh Reda Gaudiamo |
| Cast | Luisa Adreena sebagai Na Willa Irma Rihi sebagai Mak Junior Liem sebagai Pak Ira Wibowo Melissa Karim |














































