Ryan Gosling Jadi Ikon Maskulinitas Baru Gen Z dan Gen Alpha

Asep Syaifullah
|
detikPop
LAS VEGAS, NEVADA - APRIL 25: Ryan Gosling speaks onstage as he promotes the upcoming film Barbie during the Warner Bros. Pictures Studio presentation during CinemaCon, the official convention of the National Association of Theatre Owners, at The Colosseum at Caesars Palace on April 25, 2023 in Las Vegas, Nevada. (Photo by Ethan Miller/Getty Images)
Foto: Ethan Miller/Getty Images
Jakarta - Selama beberapa dekade, definisi maskulinitas di layar lebar sering kali terjebak pada sosok pahlawan super yang tak terkalahkan atau karakter "alpha" yang dominan.

Namun, sebuah studi terbaru menyoroti pergeseran besar dalam budaya populer: Ryan Gosling telah menjadi wajah baru bagi maskulinitas modern bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan Gen Alpha.

Melalui fenomena yang sering disebut netizen sebagai "He Is Me" (Dia adalah Saya), karakter-karakter yang diperankan Gosling dalam satu dekade terakhir menciptakan tren unik yang disebut "maskulinitas yang tenang namun rapuh."

Sebuah studi baru UCLA (dilansir dari ScreenRant pada 27 Februari) tentang preferensi menonton Generasi Z dan Generasi Alpha menunjukkan bahwa hal itu mungkin sedang berubah.

Survei terhadap 1.500 anak muda, berusia 10-24 tahun, menyimpulkan bahwa generasi berikutnya "sangat menginginkan versi maskulinitas yang berakar pada koneksi."

Hampir 60% responden ingin melihat lebih banyak ayah yang menikmati peran sebagai orang tua dan menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak dalam hiburan mereka, serta pria yang secara umum membantu orang lain dan bersedia meminta bantuan.

Studi tersebut menjelaskan bahwa popularitas Gosling bukan sekadar karena ketampanannya, melainkan karena kemampuannya memerankan karakter pria yang merasa terasing dari dunia. Film-film seperti Drive, Blade Runner 2049, hingga The Gray Man menampilkan sosok pria yang minim bicara, banyak berpikir, tidak mengandalkan dialog besar, tapi emosi yang terpendam.

Puncak dari tren ini terlihat lewat perannya sebagai Ken dalam film Barbie. Karakter Ken secara brilian membedah konsep patriarki dan maskulinitas tradisional. Gen Z dan Gen Alpha melihat Ken bukan sebagai sosok yang lemah, melainkan sebagai pria yang belajar bahwa harga dirinya tidak bergantung pada validasi eksternal atau kekuasaan.

Istilah "Kenergy" kini menjadi bahasa gaul baru yang menggambarkan pria yang percaya diri, suportif, dan tidak terancam oleh kesuksesan wanita di sekitarnya. Ini dianggap sebagai antitesis dari "maskulinitas toksik."

Para peneliti mencatat bahwa tren ini didorong oleh media sosial seperti TikTok dan Instagram. Meme-meme "Literally Me" yang menggunakan cuplikan film Gosling berfungsi sebagai alat bagi pria muda untuk mengekspresikan kesedihan, kegagalan, dan kerentanan mereka tanpa merasa kehilangan sisi maskulin.

Gosling dianggap berhasil menjembatani celah antara pria yang tangguh di luar, namun memiliki hati yang sensitif di dalam. Hal ini memberikan ruang bagi anak muda untuk merasa bahwa tidak apa-apa jika mereka tidak memiliki semua jawaban atas masalah hidup mereka.

Tren ini diprediksi akan mengubah cara Hollywood menulis karakter utama pria. Penonton masa kini tidak lagi hanya mencari sosok penyelamat dunia, tetapi sosok yang mencerminkan perjuangan mental mereka sendiri.

Ryan Gosling, tanpa disengaja, telah menjadi "pahlawan" bagi mereka yang merasa tidak terlihat. Ia bukan lagi sekadar aktor film romantis, melainkan simbol dari evolusi karakter pria di abad ke-21.




(ass/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO