Cerita Intan Paramaditha Tulis Novel 'Malam Seribu Jahanam' dari Nol

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Novelis Intan Paramaditha Bincang Kreatif di Kantor detikcom
Foto: GIDENajm's Camera
Jakarta - Intan Paramaditha sukses menerbitkan karya fiksi feminis horor dan punya basis pembaca setia di Tanah Air. Karya yang selalu identik dengan warna merah itu berhasil melampaui batas penulisan fiksi.

Jika ditanya, karya fiksi manakah yang paling menantang bagi Intan Paramaditha?

"Barangkali proses yang paling berkesan buat saya itu Malam Seribu Jahanam, meskipun Gentayangan ditulis selama 9 tahun. Malam Seribu Jahanam sangat personal karena berbasis cerita pribadi," katanya ketika menyambangi kantor detikcom pada Jumat malam (6/2/2026).

Saat proses mengerjakan novel Malam Seribu Jahanam, Intan ngaku harus menjalani unlearning. Ia membongkar segala hal yang ditahu sebagai penulis.

"Jadi memang membongkar seluruh hal yang saya tahu sebagai penulis dan belajar dari nol lagi. Setiap kata, setiap kalimat, saya juga merekam suara saya dari setiap bab," ucapnya.

Setiap kata yang ada di dalam novel, ia amati dan teliti lagi. Hal itu diungkapkannya sangat intens sampai Intan harus membaca ulang buku-buku penulisan kreatif.

"Saya mau tahu dari perspektif yang berbeda, proses yang menyenangkan, dan penting banget untuk mulai dari nol. Yang selanjutnya untuk dimulai lagi, saya merasakan dari nol itu," ungkap Intan.

Novel Malam Seribu Jahanam (Night of a Thousand Hells) yang ditulisnya saat pandemi memadukan unsur gotik, Islam, dan cerita rakyat. Bukunya juga mengkritik kekerasan dalam budaya kelas menengah, rencananya akan terbit dalam edisi bahasa Inggris terbitan Europa Editions (UK/US) dan Scribe (Australia) pada musim gugur 2026, diterjemahkan Stephen J. Epstein dan Tiffany Tsao.

Berikut sinopsis lengkap Malam Seribu Jahanam.

Ini dongeng tiga dara. Bukankah selalu saja tentang mereka, sebab siapa yang tak kenal cerita rumah, keluarga, kita. Tapi ini juga dongeng yang tak kau minta, tentang yang tak terlihat, tak terdengar, terlupa.

Di tahun 1991, Hajjah Victoria binti Haji Tjek Sun meramal ketiga cucunya: satu cucu berkelana, satu menjaga, dan satu lagi menjadi pengantin.

Ketika salah seorang berkhianat, dara yang tersisa terperangkap dan menoleh ke belakang, menelusuri dapur berisi kuali-kuali raksasa dan sumur terlarang di Rumah Victoria (kata orang jalan menuju rumah Nenek tak berujung), berhadapan dengan rahasia dan mimpi-mimpi yang macet di tengah jalan. Saat perjalanan dan kitab suci tidak lagi memberi perlindungan, dara yang lain hadir. Ia tak diundang dan menuntut penjelasan.




(tia/mau)

TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO