Penjelasan Ending Hamnet: Cara Chloe Zhao Temukan Cahaya di Tengah Duka
Film terbaru Chloé Zhao, Hamnet, bukan sekadar biografi tentang William Shakespeare. Diadaptasi dari novel karya Maggie O'Farrell, film ini adalah eksplorasi mendalam tentang duka, cinta, dan bagaimana seni menjadi satu-satunya jembatan untuk melepaskan kepergian orang yang dicintai.
Bagi penonton yang emosional setelah menyaksikan ending-nya, berikut adalah analisis mendalam mengenai adegan penutup yang menyayat hati antara Agnes (Jessie Buckley) dan William (Paul Mescal).
Baca juga: Saat Tony Hawk Diajak Main Film Lalu Dipecat |
1. Drama di Balik Layar: Mencari Akhir yang Tepat
Dalam wawancaranya dengan IndieWire, Chloé Zhao mengungkapkan rahasia yang mengejutkan: hanya sisa empat hari syuting, ia menyadari bahwa film ini belum memiliki akhir yang sempurna.
Meskipun urutan klimaks di Teater Globe-saat Shakespeare mementaskan Hamlet-sudah direncanakan, Zhao merasa ada potongan emosional yang hilang.
Inspirasi itu datang secara ajaib saat Zhao sedang berada di mobil dalam perjalanan menuju lokasi.
Ia melihat tangannya mencoba menyentuh hujan di luar jendela dan menyadari sebuah filosofi: Cinta tidak mati, ia hanya bertransformasi. Kesadaran inilah yang kemudian dituangkan ke dalam interaksi terakhir antara Agnes dan arwah anaknya di atas panggung.
2. Teater Globe sebagai Ruang Penyembuhan
Akhir film memperlihatkan Agnes melakukan perjalanan dari Stratford ke London untuk menonton drama terbaru suaminya, Hamlet. Di sana, ia melihat suaminya (Paul Mescal) memerankan sosok hantu ayah Hamlet, sementara seorang aktor muda memerankan sang pangeran.
Bagi Agnes, ini bukan sekadar pertunjukan teater. Melalui judul yang hampir identik dengan nama anaknya yang wafat (Hamnet), ia menyadari William tidak sedang mengabaikan duka mereka.
Sebaliknya, William menggunakan seni untuk membangkitkan kembali putra mereka. Di panggung itu, Hamnet "hidup" kembali, dan duka mereka yang selama ini menjadi tembok pemisah akhirnya runtuh.
3. Makna Adegan Agnes "Menyentuh" Hamlet
Film ditutup dengan momen simbolis saat Agnes mengulurkan tangannya menuju karakter Hamlet di atas panggung. Paul Mescal menjelaskan momen ini adalah sebuah "chemistry aneh."
"Drama itu menjadi sesuatu yang berbeda karena disaksikan oleh Agnes. Ada kelegaan luar biasa saat William menyadari bahwa Agnes mengerti tujuannya menulis karya tersebut," ujar Mescal.
Dengan menjangkau sang pangeran di atas panggung, Agnes akhirnya memberikan izin kepada dirinya sendiri untuk merelakan Hamnet pergi.
Itu adalah bentuk "penyerahan komunal" terhadap rasa sakit, di mana penonton dan karakter sama-sama merasakan tsunami emosi yang membebaskan.
4. Akhir atau Sebuah Permulaan Baru?
Bagi Paul Mescal, akhir film ini sebenarnya adalah sebuah awal. Meski hubungan Agnes dan William hancur setelah kematian anak mereka, momen di teater tersebut memberikan harapan ajaib.
Mereka mungkin tidak bisa kembali ke masa lalu, tetapi melalui karya Hamlet, mereka menemukan cara untuk saling "melihat" satu sama lain lagi. Duka yang tadinya memisahkan mereka kini menjadi benang yang menyatukan mereka kembali.
Hamnet ditutup dengan pesan bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Melalui visi Chloé Zhao, penonton diajak melihat bahwa seni, baik itu teater maupun film, adalah cara manusia untuk berdamai dengan ketidakkekalan.
(ass/wes)











































