Round Up
Aurelie Moeremans Bikin Mata Melek Bahaya Child Grooming
Deretan selebritas memberikan dukungan di media sosial untuk aktris yang kini tinggal di Amerika Serikat itu. Aurelie membuka kisahnya menjadi korban child grooming pada usia 15 tahun sampai dipaksa menikah, mengalami kekerasan, manipulasi, dan KDRT oleh sosok yang dia sebut dalam bukunya dengan nama Bobby.
Hesti Purwadinata terus memberikan dukungan pada Aurelie Moeremans, meski mendapat kiriman pesan bernada intimidasi. Diketahui pesan yang dikirim kepada suaminya, Edo Borne, berasa dari Roby Tremonti, pria yang keukeuh menyebut dirinya sebagai mantan suami Aurelie.
Jessica Iskandar juga salut dengan Aurelie. Jedar menilai apa yang dilalui oleh istri Tyler Bigenho itu gak mudah.
"Melihat ceritanya pastinya untuk bisa berada di posisi sekarang, Aurelie, sudah hebat banget. Bisa bangkit, ibaratnya sudah jatuh tapi bisa naik ke anak tangga tertinggi. Jadi big applause buat Aurelie," kata Jessica Iskandar saat ditemui awak media di Studio Pagi-Pagi Ambyar, Trans TV, Jakarta Selatan, dikutip Kamis (15/1/2026).
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) ikut menanggapi child grooming yang pernah dialami Aurelie Moeremans. Ketua Komnas HAM Anis Hidayah berterima kasih kepada Aurelie sudah berani untuk menyuarakan tentang pelecehan anak itu kepada masyarakat.
"Hak anak itu sesungguhnya dilindungi di dalam sejumlah ketentuan. Di tingkat internasional ada konvensi anak yang juga memberikan jaminan atas perlindungan hak-hak anak, UU Perlindungan Anak, UU Hak Asasi Manusia, di mana anak memiliki hak untuk bebas dari kekerasan," kata Anis saat dihubungi, Kamis (15/1/2026).
Anis mengatakan negara harus hadir untuk menangani kasus child grooming atau pelecehan pada anak ini. Ia menyebutkan korban kekerasan akan mengalami trauma yang berkepanjangan.
Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDIP, Rieke Diah Pitaloka, juga menyoroti kasus child grooming yang dialami Aurelie Moeremans dan menyuarakannya dalam rapat di DPR. Rieke mengatakan kasus ini bisa terjadi pada perempuan di Indonesia dan negara semestinya gak boleh diam.
"Bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas dan ini adalah memoar yang terindikasi merupakan kisah hidup yang nyata dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita," kata Rieke.
Ia memandang kasus serupa seperti Aurelie sebenarnya banyak di RI, tapi seringkali tak disadari.
"Ini bukan masalah yang saya kira sudah menjadi perhatian internasional. Lalu child grooming ini bukan tindak pidana yang berdiri sendiri, melainkan modus operandi prosesnya sistematis. Ketika pelaku atau groomer membangun kedekatan emosional ketergantungan pada anak atau remaja, tujuan akhir adalah kekerasan atau eksploitasi seksual," ungkapnya.
Seto Mulyadi juga buka suara mengenai dugaan yang menyeretnya mengenai kasus child grooming yang menimpa Aurelie Moeremans. Kala itu disebutkan, orang tua Aurelie Moeremans pernah meminta perlindungan kepada Seto Mulyadi sebagai Komisi Nasional Perlindungan Anak kala itu.
Laporan itu dirasa mandek dan gak ada kejelasan lebih lanjut. Hal ini membuat Seto Mulyadi buka suara dalam Instagram Stories miliknya.
"Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat. Perlu kami sampaikan bahwa praktik pendampingan anak dan cara pandang terhadap relasi kuasa, kerentanan remaja, serta dampak psikologis jangka panjang telah mengalami perkembangan yang sangat signifikan," ungkap dalam Instagram Stories miliknya dilihat detikcom, Kamis (15/1/2026).
"Namun, kami menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian dan perspektif yang lebih jauh, lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja," tuturnya lagi.
Ia mengatakan semua itu menjadi refleksi pembelajaran atas apa yang sudah terjadi. Hal ini disebut untuk memperkuat perlindungan anak ke depan.
"Kami menghormati keberanian siapa pun yang memilih untuk bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut, sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak," ungkap Kak Seto.
(pus/wes)











































