Cholil Mahmud Cerita Risiko Musisi Pro-Palestina Hadapi Imigrasi AS

Muhammad Ahsan Nurrijal
|
detikPop
Cholil Mahmud, Pelaksana Tugas Ketua Umum FESMI sekaligus vokalis Efek Rumah Kaca (ERK) di kawasan Antasari, Jakarta Selatan, Kamis (10/7/2025).
Cholil Mahmud Foto: Pingkan Anggraini/detikcom
Jakarta - Musisi Cholil Mahmud membagikan pengalaman pribadinya saat melakukan perjalanan ke luar negeri, khususnya Amerika Serikat. Sebagai musisi yang vokal menyuarakan kemanusiaan bagi Palestina, ia mengaku memiliki tantangan tersendiri terutama saat harus berhadapan dengan pemeriksaan ketat di gerbang imigrasi negara tersebut.

Risiko sebagai aktivis kemanusiaan di dunia internasional rupanya membuat vokalis grup band Efek Rumah Kaca itu harus menyusun siasat yang matang untuk menembus imigrasi. Ia menceritakan bagaimana keterlibatannya dalam kelompok-kelompok koordinasi pro-Palestina menuntut kewaspadaan tinggi agar kegiatannya di luar negeri tetap berjalan lancar tanpa hambatan.

Pria yang sempat menetap di Amerika Serikat ini menjelaskan petugas imigrasi di sana memiliki prosedur pemeriksaan yang cukup mendalam dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu yang menjadi perhatian adalah jejak digital dan konten yang tersimpan di dalam ponsel para pendatang.

"Di saat ingin masuk ke imigrasi Amerika waktu itu, jadi emang mereka biasanya petugas imigrasi belakangan tuh suka periksa handphone gitu. Jadi kami sign out dulu dan lain-lain itu strateginya," kata Cholil Mahmud saat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, kemarin.

Meskipun harus menghadapi berbagai prosedur yang menekan dan risiko yang tidak ringan, Cholil Mahmud menegaskan dirinya tidak merasa keberatan. Baginya, apa yang ia alami selama ini tidak sebanding dengan keteguhan hati warga Palestina yang setiap hari berjuang mempertahankan tanah air dan nyawa mereka di bawah tekanan kolonialisme.

"Tapi kalau lelah, nggak, karena kami ingin belajar dari masyarakat Palestina yang saya rasa yang ingin merasa bahwa mereka sudah punya semua keberanian, kekuatan untuk terus apa namanya, melawan aneksasi, melawan koloni yang mereka hadapi sampai hari ini," tuturnya.

Baginya, menyuarakan isu Palestina merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan mental yang kuat. Ia berharap gerakan kemanusiaan yang dijalankannya bersama musisi lain bisa terus konsisten dan memberikan dampak besar bagi kebijakan internasional maupun kesadaran masyarakat luas.

"Jadi kita ya terus belajar dan ya semoga bisa tetap kuat, bisa nggak capek-capek gitu ya mudah-mudahan. Dari berbagai medium gitu kali ya perjuangannya," pungkasnya.



(ahs/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO