The All American Rejects Kritik Harga Tiket Konser yang Makin Gila

Dicky Ardian
|
detikPop
All American Rejects menggelar tur dadakan gratis di tempat unik, namun dibubarkan polisi di Missouri.
Foto: Instagram The All American Rejects
Jakarta - Ngerasa gak kalau harga tiket konser makin mahal setelah pandemi? Kamu gak sendirian kok. Kali ini, band rock alternatif asal Amerika Serikat, The All American Rejects, ikut meluapkan keresahan mereka terhadap kondisi industri musik saat ini.

Lewat wawancara terbaru, Tyson Ritter dan Nick Wheeler blak-blakan mengkritik sistem konser modern yang dinilai semakin menjauh dari penggemar biasa. Menurut mereka, konser sekarang perlahan berubah jadi hiburan eksklusif untuk kalangan tertentu saja.

"Kami sedang berbicara tentang seni di sini. Kenyataan bahwa Anda dapat memodifikasi penggemar Anda, itulah permainan industri sekarang," kata Ritter.

"Ini telah menjadi pengalaman bagi kaum satu persen teratas (orang kaya), dan menurut saya itu sangat kacau. Karena orang-orang yang paling mencintai musik, orang-orang yang paling membutuhkan musik, adalah orang-orang yang hidupnya pas-pasan, orang-orang yang datang dari tempat asal kami," lanjutnya.

Gengs, band pelantun Dirty Little Secret itu juga menegaskan mereka tidak ingin ikut larut dalam arus kapitalisasi industri musik modern. Setelah kembali merilis album penuh usai vakum selama 14 tahun, mereka memilih tetap dekat dengan fans lewat cara yang lebih sederhana.

Sebagai bentuk protes terhadap mahalnya tiket konser, The All American Rejects bahkan sempat menggelar tur independen dengan konsep unik. Mereka tampil di lokasi-lokasi kecil seperti pesta rumah, arena bowling, sampai lumbung padi demi menghadirkan konser yang lebih murah dan intim untuk penggemar.

Meski salah satu pertunjukan sempat dibubarkan polisi setempat, langkah tersebut justru menuai banyak dukungan dari fans yang merasa konser kini semakin sulit dijangkau.

Nick Wheeler juga menyoroti kondisi industri pertunjukan yang menurutnya sudah terasa tidak masuk akal.

"Bagaimana bisa biaya pergi ke luar negeri untuk melihat band favoritmu menjadi lebih murah daripada sekadar melihat mereka di kotamu sendiri?" ujar Wheeler.

Ia bahkan menyebut musisi besar saat ini seharusnya mulai memikirkan ulang soal keuntungan fantastis yang mereka ambil dari tur konser.

"Sekarang tanggung jawab ini, terutama bagi penampil utama, berada di tangan para musisi itu sendiri. Penggemar berhak mempertanyakan, 'Apakah artis favorit saya perlu menghasilkan 75 juta dolar AS musim panas ini? Atau bisakah mereka menghasilkan 30 juta dolar AS saja? Apakah uang itu sudah cukup bagi Anda?'" imbuhnya.

Fenomena harga tiket konser yang melonjak memang terus menuai kritik dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Inggris bahkan sempat menjanjikan rancangan undang-undang untuk membatasi praktik calo tiket dan sistem harga dinamis yang dianggap makin memberatkan penggemar.

Namun hingga kini, regulasi tersebut masih sebatas draf. Kondisi itu akhirnya memicu protes terbuka dari sejumlah nama besar dunia musik seperti Radiohead, Arctic Monkeys, Ed Sheeran, hingga Dua Lipa yang mendesak pemerintah segera bertindak demi melindungi penikmat musik.


(dar/mau)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO