Banyak Musisi Cabut dari Kennedy Center gegara Donald Trump
Penambahan nama Trump ini langsung memicu reaksi keras. Banyak seniman menilai langkah tersebut bersifat politis dan bertentangan dengan nilai-nilai seni yang selama ini menjunjung kebebasan berekspresi, keterbukaan, dan keberagaman.
Salah satu yang paling disorot adalah grup jazz The Cookers. Grup ini memutuskan menarik diri hanya beberapa hari sebelum jadwal penampilan mereka pada malam Tahun Baru 2026. Mengutip laporan Variety pada Rabu (31/12), keputusan tersebut diumumkan lewat pernyataan resmi dari pihak grup.
"Jazz lahir dari perjuangan dan dari tuntutan tanpa henti atas kebebasan, kebebasan berpikir, berekspresi, dan menyuarakan kemanusiaan sepenuhnya," tulis The Cokers.
The Cookers menilai Donald Trump kerap dikaitkan dengan sikap dan kebijakan yang dianggap membatasi kebebasan serta memecah masyarakat. Karena itu, menurut mereka, sosok Trump bertentangan dengan nilai historis dan filosofis dari musik jazz itu sendiri.
Tak hanya dari dunia musik, penolakan juga datang dari seni pertunjukan. Kelompok tari Doug Varone and Dancers mengungkapkan kepada New York Times bahwa mereka juga membatalkan pertunjukan di Kennedy Center, meski harus menelan kerugian sebesar USD 40 ribu atau sekitar Rp 670 juta.
Bagi kelompok tari tersebut, keputusan mundur bukan soal uang. Mereka menilai menjaga prinsip dan nilai seni jauh lebih penting dibanding keuntungan materi.
Pembatalan ini pun dijadikan sebagai bentuk sikap sekaligus protes terhadap keputusan menempelkan nama Trump di gedung seni tersebut.
Sebelum The Cookers dan Doug Varone and Dancers, musisi jazz Chuck Redd juga lebih dulu membatalkan konser malam Natalnya di Kennedy Center.
Langkah itu juga dilakukan sebagai bentuk protes atas penggunaan nama Trump. Bahkan, Kennedy Center sempat mengancam akan menuntut Chuck Redd untuk ganti rugi atas pembatalan tersebut.
Situasi ini mendapat respons keras dari Presiden Kennedy Center, Richard Grenell. Lewat surat resmi yang dirilis pada 26 Desember 2025, Grenell mengkritik para seniman yang membatalkan pertunjukan. Ia menilai pembatalan tersebut bermuatan politis dan mencerminkan sikap tidak toleran.
"Para seniman yang sekarang membatalkan pertunjukan sebelumnya dipesan oleh kepemimpinan lama yang berhaluan kiri jauh," kata Richard Grenell.
"Tindakan mereka membuktikan bahwa tim sebelumnya lebih mementingkan pemesanan aktivis politik kiri jauh daripada seniman yang bersedia tampil untuk semua orang tanpa memandang keyakinan politik. Memboikot seni untuk menunjukkan dukungan terhadap seni adalah bentuk sindrom penyimpangan," tambah Grenell.
Pihak Kennedy Center sendiri menegaskan bahwa mereka tidak akan mentoleransi segala bentuk diskriminasi. Mereka juga menyatakan akan terus menghadirkan seniman yang dapat diterima oleh semua latar belakang dan pandangan politik.
Penambahan nama Donald Trump di Kennedy Center diketahui terjadi pada awal Desember 2025. Keputusan ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya Trump untuk meninggalkan jejak personal di lembaga seni prestisius tersebut.
Namun, kemunculan nama Trump justru memicu kemarahan luas. Ia dikenal sebagai figur yang kerap melahirkan kebijakan dan pernyataan kontroversial selama menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.
Banyak seniman menilai kebijakan Trump selama ini tidak ramah terhadap imigran, kelompok minoritas, serta kebebasan berekspresi.
(dar/tia)











































