×
Ad

Alasan Profesi Damkar Jadi Sorotan Utama di Film GJLS: Berapi-api

Desi Puspasari - detikPop
Minggu, 25 Okt 2026 17:03 WIB
Para pemain GJLS: Berapi-api Foto: Muhammad Ahsan Nurrijal/detikcom
Jakarta -

Belakangan ini profesi pemadam kebakaran atau Damkar jadi sorotan. Bahkan mereka jadi primadona buat siapa saja yang butuh pertolongan.

Citra petugas pemadam kebakaran ala film Hollywood, pria berbadan tegap menerobos kobaran api setinggi gedung, memecahkan kaca jendela, lalu menggendong korban selamat di tengah kepulan asap pekat.

Namun di Indonesia, realitanya pahlawan berseragam oranye dan biru ini jauh lebih membumi. Mereka bukan cuma penakluk kobaran api, melainkan garda penyelamat keresahan warga, apalagi kalau emak-emak yang lagi mengalami masalah.

Media sosial kini sudah sangat akrab dengan berbagai aksi penyelamatan Damkar. Malah laporan yang datang ke posko Damkar sudah bukan cuma soal api. Cincin kawin kekecilan gak bisa lepas dari jari, panggil Damkar. Kucing kesayangan nyangkut di atas pohon tetangga, panggil Damkar. Sarang tawon vespa sebesar helm motor nempel di plafon dapur, panggil Damkar. Kunci motor kecemplung got sempit, panggil Damkar.

Alhasil petugas Damkar kini menjadi jawaban ketika masalah sehari-hari terasa buntu. Petugas damkar datang tanpa penghakiman, berbekal perkakas, ketenangan luar biasa, dan dedikasi buat jadi penolong.

Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (25/10/2026), keunikan sosiologis inilah yang ditangkap secara cerdas oleh sutradara Monty Tiwa dan rumah produksi Amadeus Sinemagna dalam film komedi aksi terbaru, GJLS: Berapi-Api.

Alih-alih menempatkan trio Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir sebagai pahlawan super tanpa celah, film ini justru menempatkan mereka di posisi paling manusiawi, yakni tiga sahabat yang gagal saat pelatihan akademi dan terlempar ke divisi pelayanan non-kebakaran.

Tugas mereka di film bukan menyemprot gedung pencakar langit yang membara, melainkan melayani aduan-aduan warga yang sering dipandang remeh, tapi berdampak besar bagi kelangsungan hidup lingkungan sekitar.

Misalnya saja mereka bakal gerak cepat membebaskan kepala warga yang tersangkut di sela jeruji pagar, menjalankan misi genting mengambil buku rapor anak SD yang tertinggal, hingga menghadapi warga yang histeris dan mendadak kesurupan di tengah perkampungan.

Di balik komedinya, GJLS: Berapi-Api membawa pesan sosial yang sangat hangat, bahwa tidak ada pertolongan yang terlalu kecil.

Melayani hal-hal kecil dengan ketulusan hati, meski sering dibarengi rasa panik dan kekonyolan khas trio GJLS adalah wujud heroisme sejati yang selama ini dipraktikkan oleh para petugas damkar di dunia nyata.

"Selain kami ingin membawakan cerita yang lebih hangat, inspiratif, lucu, dan terbuka untuk siapa saja, kami juga ingin menunjukkan kalau tidak ada namanya perbuatan baik yang 'terlalu kecil'. Kami rasa Damkar adalah bentuk nyata dari pesan tersebut,' kata Rigen Rakelna, satu dari trio GJLS.

Melalui karakter Rigen, Rispo, dan Hifdzi, penonton diajak melihat sisi lain dari seragam damkar. Di balik lelucon segar dan dinamika persahabatan mereka yang kikuk, ada rasa hormat mendalam kepada ribuan personel pemadam kebakaran di seluruh pelosok Indonesia yang setiap hari siap siaga 24 jam demi ketenangan warga.

Aksi heroik, kocak, dan penuh kehangatan dalam GJLS: Berapi-Api, bakal tayang di bioskop pada 5 November 2026.



Simak Video "Video: Menyulut Bara Komedi di Film GJLS: Berapi-Api"

(pus/aay)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork