Resident Evil: Adaptasi Yang Mengagumkan
Lalu muncul film terbaru dengan Zach Cregger sebagai komandannya. Setelah Barbarian dan Weapons, Cregger membuktikan bahwa dia adalah pemilik suara horor yang paten.
Apakah ia bisa membuat adaptasi film yang paling baik untuk salah satu game paling terkenal ini? Jawabannya ternyata: iya. Zach Cregger adalah orang yang selama ini dicari oleh Resident Evil.
Alih-alih menggunakan mitologi dari game-nya yang kompleks, Cregger dan penulis skrip Shay Hatten membuat kanvas yang baru. Tokoh utamanya adalah Bryan (Austin Abrams), seorang kurir yang malam itu mendapatkan pekerjaan untuk mengantarkan barang ke Racoon City.
Bryan bukannya tanpa masalah. Ia sedang menghadapi masalah pelik dengan pacarnya yang akan menentukan masa depannya. Tapi di tengah-tengah perjalanannya mengantarkan barang tersebut, Bryan menabrak seseorang.
Dan dari sinilah pintu neraka dibuka.
Resident Evil (2026) Foto: Dok. Ist |
Keputusan Cregger dan Hatten untuk tidak menggunakan karakter-karakter yang sudah ada di game untuk film ini adalah keputusan baik.
Satu, penonton tidak terbayang-bayang dengan penampilan aktor enam film pertamanya yang sudah terlanjur legendaris. Dua, Bryan yang diperkenalkan sebagai karakter yang tidak tahu apa-apa soal bahaya yang mengancamnya adalah perwakilan penonton yang tepat.
Dari film dibuka sampai film berakhir, kita berada di pihaknya Bryan. Apa yang dia lakukan, bagaimana cara dia menyelesaikan masalah, reaksi dia terhadap berbagai kejadian yang menimpanya. Semua ini membuat saya sebagai penonton langsung terikat dengan apa pun yang ia lakukan sepanjang film.
Yang juga sangat menarik dari Resident Evil terbaru ini adalah bagaimana Cregger membuat film ini terasa seperti permainan game beneran tanpa kebanyakan gimmick.
Ketika Bryan berhasil menyelesaikan satu masalah, ia akan menemui masalah berikutnya yang tentunya dibuat lebih pelik dari masalah sebelumnya.
Dengan setting dan musuh yang berbeda di setiap tikungannya, Resident Evil terasa seperti sebuah film petualangan horor yang benar-benar menggetarkan.
Cregger mengatakan bahwa adaptasi terbaru ini adalah terjemahan dari apa yang dia rasakan ketika memainkan game-nya. Cregger menerjemahkan hal tersebut dengan menempatkan begitu banyak point-of-view shot dalam filmnya.
Tidak hanya kita menemani Bryan sepanjang film tapi dalam banyak situasi, kita benar-benar menjadi tokoh utamanya. Penonton dipaksa untuk memeriksa kegelapan, mencurigai suara misterius dan harus merespons dengan cepat ketika realita menampilkan horor yang lebih buruk dari bayangan kita.
Hal ini membuat Resident Evil tidak hanya berakhir menjadi sebuah horor yang maksimal tapi juga terjemahan sebuah game yang efektif. Begitu film selesai, saya ingin tahu lebih banyak dengan apa yang akan terjadi dengan Racoon City berikutnya.
Tentu saja kita tidak bisa memisahkan Cregger dengan selera humornya. Baik Barbarian dan Weapons, Cregger menunjukkan bahwa ketakutan dan tawa ternyata bisa menjadi amunisi yang mematikan jika diramu dengan baik.
Resident Evil yang versi terbaru ini terasa spesial karena tidak hanya akhirnya kita punya film Resident Evil yang benar-benar seram tapi film ini juga lucunya luar biasa.
Ada banyak momen dimana Bryan melakukan sesuatu atau merespons sesuatu dengan guyonan khas orang panik. Humor ini tidak hanya membuat Resident Evil menjadi lebih berwarna tapi ia juga terasa realistis. Kita juga pasti sering melakukan hal-hal bodoh di situasi yang genting.
Dengan durasi yang sangat bersahabat-hanya satu setengah jam-dan berbagai kejutan yang akan menyenangkan siapa pun yang memainkan game-nya, Resident Evil yang ini akhirnya menjadi sebuah film yang bisa dibanggakan.
Tidak hanya film ini menjadi salah satu adaptasi game terbaik tapi juga berhasil memperbaiki citra Resident Evil. Dan tentu saja, nama Zach Cregger sudah resmi menjadi jaminan yang tak bisa digoyahkan.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan

