1.500 Sineas Beri Dukungan untuk Sutradara NAZA

Asep Syaifullah
|
detikPop
NAZA (2026)
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Ribuan sineas dan pelaku industri perfilman Israel menandatangani petisi terbuka untuk mendukung dua sutradara film dokumenter NAZA, Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kecaman, ancaman, hingga penolakan politik terhadap kedua sutradara tersebut setelah film mereka memenangkan penghargaan di Festival Film Venesia (Venice Film Festival).

Dokumenter NAZA memicu kontroversi luas lantaran memuat kesaksian serta tuduhan terkait dugaan kejahatan perang dan pembantaian massal yang dilakukan militer Israel di Gaza.

Dalam petisi yang telah ditandatangani 1.500 para pekerja seni, diantaranya adalah filmmaker asal Israel yakni Ari Folman, Nadav Lapid hingga Shlomi Elkabetz.

Mereka menegaskan bahwa karya seni dan jurnalisme memiliki peran krusial untuk menjadi cermin bagi masyarakat, terutama di masa konflik.

Mereka menilai bahwa tekanan yang dialami oleh Abraham dan Szor merupakan bentuk ancaman langsung terhadap kebebasan berpendapat dan berkarya.

"Seniman dan jurnalis tidak boleh diintimidasi karena menayangkan kenyataan yang sulit diterima," bunyi poin utama dalam petisi tersebut.

Petisi solidaritas ini terus menyedot dukungan dari berbagai elemen komunitas perfilman internasional dan lokal, seiring dengan kekhawatiran meluasnya upaya pembungkuman terhadap karya-karya yang kritis terhadap kebijakan militer dan pemerintah.

Serangan terhadap kedua sutradara makin memuncak setelah beberapa pejabat pemerintah Israel melontarkan kritik keras.

Menteri Kebudayaan Israel, Miki Zohar, bahkan secara terbuka mengecam film tersebut dan menyerukan pencabutan kewarganegaraan bagi Yuval Abraham dan Rachel Szor atas tuduhan mencederai citra negara di kancah internasional.

Meski menghadapi ancaman keamanan serta desakan politik dari kelompok sayap kanan dan pejabat pemerintah, para sineas pendukung menegaskan akan terus membela hak-hak pembuat film dalam mendokumentasikan peristiwa kemanusiaan tanpa rasa takut akan pembalasan politik.

(ass/tia)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO