Niu Lai, Bukti Kasih Ibu hingga ke Box Office
Sempat dianggap sebagai kegagalan komersial terbesar tahun ini, film beranggaran sangat minim tersebut justru berbalik menjadi fenomena budaya (cultural phenomenon) dan meraih pendapatan box office yang fantastis berkat kekuatan media sosial.
Ketika pertama kali tayang di bioskop pada awal Agustus, Niu Lai bisa dibilang hancur lebur. Pada hari pertama pemutarannya, film ini dilaporkan hanya meraup pendapatan sekitar USD 50 atau Rp 880 ribu.
Bahkan setelah beberapa hari tayang secara nasional, total pendapatannya hanya menyentuh angka sekitar 7.352 yuan (sekitar USD 1.000)-angka yang begitu tragis hingga netizen sempat mengira terjadi kesalahan ketik pada data box office.
Kehancuran tersebut dengan cepat memicu gelombang ejekan di internet. Animasi yang terasa kaku, efek suara yang janggal, transisi layar hitam yang mendadak, hingga visual yang terlihat sangat amatir membuat Niu Lai dihujat sebagai salah satu film animasi terburuk yang pernah dibuat.
Namun, di situlah letak keajaibannya. Rasa penasaran penonton justru bangkit setelah film tersebut viral karena keburukannya.
Banyak penonton muda berbondong-bondong datang ke bioskop bukan untuk menikmati sinematografi megah, melainkan untuk tertawa bersama, bersorak, dan merasakan pengalaman menonton film campy ala cult classic seperti The Rocky Horror Picture Show.
Di balik eksekusinya yang sangat sederhana, publik kemudian menemukan fakta emosional di balik pembuatannya. Niu Lai merupakan "proyek impian" yang dikerjakan selama lima tahun oleh seorang pemuda bernama Xin Yumeng bersama ibunya, Sun Lifang, dengan anggaran kurang dari $500 atau Rp 8,8 juta.
Mereka berdua menangani hampir seluruh proses produksi-mulai dari menyutradarai, menulis skenario, membuat animasi, mengisi suara, hingga menyanyikan lagu kerajinan mereka sendiri.
Di tengah gempuran animasi buatan kecerdasan buatan (AI) yang makin marak dan terasa dingin, ketidaksempurnaan Niu Lai justru dipandang sebagai karya seni yang jujur, otentik, dan penuh jiwa.
Kisah film ini sendiri menceritakan perjalanan seekor anak sapi bernama Niu Lai yang belajar tentang keberanian, persahabatan, dan pengorbanan setelah kehilangan ibunya.
Narasi puitis tentang hubungan ibu dan anak ini rupanya berhasil menyentuh hati generasi muda Tiongkok.
Berkat dukungan dari mulut ke mulut (word of mouth) dan kampanye media sosial, bioskop-bioskop yang tadinya sepi mulai dipenuhi penonton.
Hingga kini, film yang tadinya hanya menghasilkan ribuan yuan tersebut diperkirakan telah melampaui pendapatan USD 8 juta (sekitar Rp140 miliar).
Niu Lai kini membuktikan bahwa di tengah industri perfilman yang didominasi oleh blockbuster berbiaya triliunan rupiah dan CGI canggih, kepolosan karya amatir yang dibuat dengan kehangatan cinta tetap memiliki tempat tersendiri di hati penonton.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
