Kisah di Balik Layar Adegan Ikonik Mission: Impossible
Salah satu adegan yang paling melekat di ingatan penonton adalah ketika Ethan Hunt (Tom Cruise) menyusup ke dalam ruang komputer CIA yang sangat ketat di Langley, tergantung di seutas tali tepat di atas lantai yang sensitif terhadap tekanan.
Namun, ketegangan adegan tersebut tidak akan tercipta tanpa kehadiran karakter William Donloe, seorang analis CIA malang yang perutnya mulas akibat kopi yang dicampur obat pencahar oleh tim Ethan Hunt.
Dalam sebuah wawancara mendalam yang dipublikasikan oleh Polygon, pemeran William Donloe, Rolf Saxon, membagikan kisah-kisah luar biasa di balik layar yang belum pernah terungkap sebelumnya mengenai pembuatan adegan legendaris tersebut.
Perjalanan Rolf Saxon untuk mendapatkan peran William Donloe terbilang sangat cepat. Saxon mengenang saat itu ia sedang berada di London ketika agennya mendesak dirinya untuk segera datang ke studio karena sutradara Brian De Palma sedang mencari aktor untuk sebuah peran kecil, tapi krusial.
"Saya pergi ke sana, masuk ke ruangan, dan Brian De Palma sedang duduk di sana bersama sebuah kamera video kecil," cerita Saxon.
"Dia tidak menyuruh saya membaca naskah. Dia hanya berkata, 'Bisakah kamu melihat ke atas sana? Oke, sekarang lihat ke bawah sini. Bisakah kamu terlihat gugup?' Saya melakukannya, dan dia langsung berkata, 'Hebat, kamu mendapatkan perannya.' Prosesnya tidak sampai lima menit."
Bagi penonton, ruangan putih CIA tempat Donloe bekerja terlihat sangat futuristik dan steril. Namun, Saxon mengungkapkan bahwa realitas di lokasi syuting-yang dibangun di Pinewood Studios, Inggris-sangat berbeda dengan apa yang terlihat di layar lebar.
Lantai ruangan yang dalam film digambarkan sangat sensitif terhadap tekanan dan suhu tersebut sebenarnya terbuat dari bahan kayu lapis (plywood) biasa yang dicat putih berkilau.
Mission Impossible. Foto: Dok. Ist |
Karena lantai tersebut sangat mudah kotor dan tergores, seluruh kru film dan aktor diwajibkan memakai pelindung sepatu berbahan kain flanel sebelum kamera mulai merekam.
"Setiap kali seseorang melangkah, catnya bisa terkelupas atau kotor. Jadi, ada tim khusus yang selalu siap sedia dengan kuas dan cat putih untuk melakukan pengecatan ulang di antara setiap take," ungkap Saxon.
Salah satu momen paling menegangkan dalam adegan tersebut adalah ketika Tom Cruise tergantung secara terbalik di atas tubuh Saxon, dengan sebilah pisau yang terjatuh dari saku Cruise dan menancap di atas meja, hanya beberapa inci dari tangan Saxon.
Saxon menceritakan Tom Cruise benar-benar melakukan aksi ekstrem tersebut sendiri tanpa bantuan pemeran pengganti. Karena harus tergantung terbalik dalam waktu yang sangat lama, Cruise mengalami tekanan darah yang hebat di kepalanya, menyebabkan matanya memerah dan pembuluh darah di wajahnya menegang. Oleh karena itu, kru harus menurunkan Cruise untuk beristirahat setiap beberapa menit sekali.
Mengenai adegan pisau yang jatuh menancap di meja, Saxon mengungkapkan sebuah fakta teknis yang mengejutkan. Pisau tersebut dijatuhkan melalui sebuah tabung pelindung bening khusus agar jatuhnya akurat dan aman.
Tabung tersebut kemudian dihapus secara digital menggunakan efek visual (CGI) pada proses pascaproduksi.
"Tom berada tepat di atas saya, tergantung terbalik, dan saya bisa merasakan kehangatan napasnya di wajah saya. Itu adalah pengalaman kerja yang luar biasa intens," kenang Saxon mengenai profesionalisme Cruise.
Meskipun karakternya hanya muncul dalam satu urutan adegan di film pertama dan diceritakan dibuang ke pos militer terpencil di Alaska sebagai hukuman atas kelalaiannya, karakter William Donloe memiliki dampak yang sangat besar bagi hidup Saxon.
Hingga hari ini, puluhan tahun setelah film tersebut dirilis, Saxon mengaku masih sering dikenali oleh penggemar di tempat-tempat umum seperti bandara hanya karena perannya sebagai analis CIA yang malang tersebut.
Karakter Donloe juga sangat dicintai karena dia adalah satu-satunya karakter manusia biasa yang bisa dipahami oleh penonton di tengah-tengah para agen rahasia yang tampak sempurna.
"Dia hanyalah seorang pria yang sedang sial, ingin minum kopi, dan perutnya mendadak sakit. Penonton bersimpati kepadanya karena dia sangat manusiawi," pungkas Saxon.
(ass/pus)












































