Sinopsis:
Hokum mengikuti kisah Ohm Bauman yang diperankan Adam Scott, seorang penulis asal Amerika Serikat yang mengalami kebuntuan saat menyelesaikan novel trilogi populernya.
Setelah melihat penampakan mendiang ibunya, Ohm pergi ke The Bilberry Woods Hotel di pedesaan Irlandia untuk menaburkan abu jenazah orang tuanya.
Di hotel tersebut, ia mendengar legenda tentang penyihir yang menculik anak-anak ke dunia bawah tanah. Situasi semakin mencekam ketika seorang staf hotel tiba-tiba menghilang secara misterius.
Ohm akhirnya melakukan penyelidikan sendiri dan mulai menghadapi berbagai kejadian supranatural yang perlahan membuka trauma masa kecilnya.
Review:
Ohm Bauman (Adam Scott) adalah seorang penulis terkenal yang saat ini stuck untuk menyelesaikan bab terakhir buku terakhir dari sebuah trilogi yang dicintai semua orang. Entah apakah ia benar-benar buntu atau emang Bauman memiliki trauma yang ia tidak sadari-ia menyaksikan hal yang ia tidak harusnya lihat saat menyelesaikan bab terakhir ini. Seperti ada hantu yang mengikutinya.
Bauman memutuskan untuk pergi ke Irlandia. Lebih tepatnya pergi ke Bilbery Woods Hotel yang ada di pedesaan Irlandia demi menyebar abu kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Di hotel ini Bauman mendengar cerita tentang legenda penyihir yang memangsa manusia, bertemu dengan seorang laki-laki yang konon membunuh istrinya sendiri dan sebuah kamar yang tidak boleh dibuka. Kamar khusus pengantin itu-honeymoon suite sebutannya-konon mempunyai misteri yang kelam. Tinggal menunggu waktu sebelum Bauman akhirnya mengetahui kenapa kamar tersebut tidak pernah dibuka lagi.
Hokum adalah karya terbaru dari sutradara dan penulis Damian McCarthy yang melejit lewat dua film horor Caveat dan Oddity. Kalau kamu menyukai bagaimana McCarthy menakut-nakutimu dalam Oddity, kemungkinan besar kamu akan menyukai keseraman yang ada di dalam Hokum. Film ini masih mengikuti resep McCarthy yang ampuh: setting cerita yang angker dengan latar belakang cerita yang mengikat.
Secara naratif Hokum mungkin tidak sepenuhnya sempurna. Ada bagian dari film ini yang mencoba mengikuti tren horor zaman sekarang yang tidak bisa dihindari: trauma. Sepertinya McCarthy paham soal kebosanan penonton terhadap tema ini sehingga ia tidak 100% berkomitmen dengan topik ini. Itulah sebabnya Hokum tidak sedepresi film-film sejenis (bandingkan dengan film-film seperti Hereditary atau Bring Her Back).
Hokum juga sebenarnya bisa lebih ringkas dan lebih pendek. Ada beberapa momen dalam film ini yang rasanya seperti dipanjang-panjangkan. Film ini benar-benar menghentak begitu karakter utamanya-dan penonton-memasuki kamar pengantin yang digadang-gadang menjadi sumber masalah itu. Dan di sinilah memang McCarthy bersenang-senang.
Hokum memang masih tipikal film barat-terutama dalam pengadeganan adegan seram. Jangan bandingkan dengan film-film Asia yang jauh lebih jago untuk membuat penontonnya merinding. Tapi meskipun begitu, Hokum tidak kekurangan peluru untuk membuat penontonnya loncat dari kursi. Satu hal yang pasti: McCarthy tahu bagaimana caranya membuat jumpscare. Meskipun set-up adegannya bisa ditebak, tapi hasilnya selalu efektif. Seperti adegan ketika McCarthy mengenalkan penontonnya dengan karakter penyihir.
Yang menarik dari Hokum adalah penutupnya yang optimistik. Berbeda dengan kebanyakan film horor yang mempunyai kecenderungan untuk menutup filmnya dengan rasa yang pahit, McCarthy menutup filmnya dengan sesuatu yang lebih manis. Dan ternyata, penutup yang memuaskan bisa membuat sebuah film horor menjadi menarik-dan dalam kasus Hokum, menjadi menyegarkan.
Hokum dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
Simak Video "Video: Cerita Iqbaal Main Film Horor Perdana di 'Monster Pabrik Rambut'"
(dar/dar)