Aktor asal Jerman, Lars Eidinger, bersiap menandai langkah barunya di jagat pahlawan super DC Universe (DCU).
Dalam wawancara eksklusif bersama The Hollywood Reporter (18/5), Eidinger membagikan kisah di balik proses pemilihan dirinya sebagai pemeran Brainiac, serta hal-hal yang membuatnya terpikat pada karakter penjahat ikonik tersebut dalam film Man of Tomorrow.
Meski rekam jejaknya lebih didominasi oleh film drama kontemporer dan panggung teater, Eidinger mengaku transisi ke genre pahlawan super ini terasa sangat organik.
Ia tidak melihat adanya perbedaan kontras antara film berskala besar seperti Man of Tomorrow dengan karya seni peran yang biasa ia lakoni. Menurutnya, film-film ini memiliki ambisi filosofis yang serius dan bobot alegoris yang besar.
"Perbedaannya tidak sejauh yang Anda bayangkan," ujar Eidinger.
Baca juga: Superman: Man of Tomorrow Mulai Syuting |
"Meskipun awalnya mengejutkan, film-film ini punya ambisi filosofis yang serius. Bagi saya, mereka membawa bobot alegoris yang besar. Ambil contoh kata super-kata itu sering digunakan sebagai superlatif untuk sesuatu yang hebat atau luar biasa. Padahal, super sebenarnya berarti 'di atas' atau 'melampaui'. Jadi, Superman adalah seorang Übermensch (Manusia Unggul). Anda juga punya konsep Super Ego. Jadi, dimensi psikologis yang mendalam sebenarnya sudah tertanam di dalamnya sejak awal."
Lebih lanjut, Eidinger menyandingkan kompleksitas karakter Brainiac dengan mahakarya sastra klasik besutan William Shakespeare.
Sebagai salah satu musuh paling mematikan bagi Superman, Brainiac dinilai memiliki keterkaisuai erat dengan elemen-elemen teater legendaris yang kerap mengeksplorasi tema korupsi, kekuasaan, dan moralitas.
Pengalamannya bertahun-tahun di atas panggung teater secara tidak langsung telah menempa dirinya untuk menghidupkan karakter ini.
Eidinger juga menceritakan pengalamannya saat pertama kali berada di lokasi syuting dan melihat keindahan visual dari proses pembuatan film modern ini.
"Minggu lalu saya berada di lokasi syuting saat latihan dan meminta izin untuk melihat proses syuting yang sudah dimulai. Saya melihat seorang aktor mengenakan kostum Superman, tergantung pada kabel di depan bluescreen."
"Saya memandangi citra itu dan berpikir: Ini adalah esensi dari fiksi. Itu adalah citra yang sama signifikannya dengan sosok Hamlet yang sedang memegang tengkorak: Superman, dalam pose khasnya, tergantung pada kabel di depan sebuah bluescreen."
Menutup wawancaranya, Eidinger mengakui bahwa terlibat dalam semesta DC bukanlah ambisi lama yang menggebu-gebu baginya.
Namun, setelah kini ia benar-benar menjalaninya, ia melihat ada garis takdir yang tak terhindarkan.
"Berada di semesta Superman bukanlah impian atau hasrat yang membara bagi saya. Namun sekarang setelah hal ini benar-benar terjadi, saya melihat ada kepastian tertentu di dalamnya, sesuatu yang hampir terasa seperti takdir," pungkasnya.
Simak Video "Video Bocoran Kisah 'Superman' Versi James Gunn: Tentang Kebaikan"
(ass/dar)