×
Ad

Michael Jackson dan Kisahnya Hampir Ubah Marvel

Asep Syaifullah - detikPop
Rabu, 29 Apr 2026 08:00 WIB
Foto: Jim Ruyman-Pool/Getty Images
Jakarta -

Sejarah budaya populer hampir saja berubah secara radikal pada era 1990-an. Di balik gemerlap panggung musik, Sang Raja Pop, Michael Jackson, ternyata memiliki rencana besar untuk menguasai industri komik dunia.

Bukan sekadar investasi bisnis, motivasi utama Jackson adalah sebuah ambisi pribadi yang sangat spesifik. Dia ingin menjadi Peter Parker di layar lebar.

Namun, di balik rencana megah ini, terdapat latar belakang yang kelam bagi Marvel maupun Michael Jackson sendiri.

Tahun 1990-an adalah masa yang sulit bagi Marvel Comics dan Michael Jackson. Marvel Entertainment Group saat itu berada di ambang kehancuran akibat keputusan bisnis yang buruk dan persaingan ketat, hingga akhirnya dinyatakan bangkrut pada pertengahan dekade tersebut.

Di saat yang sama, Michael Jackson menghadapi krisis reputasi yang jauh lebih serius. Ia didera berbagai tuduhan berat, termasuk dugaan pelecehan anak.

Meski kasus hukumnya sangat pelik, Jackson memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat masalah tersebut seolah "menghilang" dari permukaan, didukung oleh publik dunia yang saat itu enggan melihat sang idola dalam citra negatif.

Dalam situasi terdesak ini, Jackson ingin memulihkan citranya. Menjadi pahlawan super (superhero) di layar lebar dianggap sebagai strategi jitu untuk kembali dilihat sebagai sosok pahlawan di mata dunia.

Pada periode tersebut, sutradara James Cameron sebenarnya tengah mengembangkan proyek film Spider-Man (namun akhirnya batal). Michael Jackson, yang sangat ingin terlibat, merasa bahwa satu-satunya cara untuk menjamin dirinya mendapatkan peran utama adalah dengan membeli seluruh perusahaan Marvel.

Keponakan Michael, Taj Jackson, mengungkapkan fakta ini dalam acara Popcorned Planet.

"Saya ingat sedang bersama saudara-saudara saya dan dia (Michael) berbicara tentang membeli Marvel. Dia ingin melakukannya bersama Stan Lee. Mereka sudah mendiskusikan hal itu berkali-kali," kenang Taj dilansir dari ScreenRant (28/4).

Menurut Taj, pamannya bukan sekadar penggemar musiman. Jackson adalah pembaca komik sejati yang memahami hampir seluruh karakter Marvel.

Meskipun Spider-Man adalah target utamanya, visinya adalah menguasai seluruh semesta Marvel.

Rencana akuisisi ini akhirnya kandas di tengah jalan. Meski Jackson dan Stan Lee sangat gigih dalam prosesnya, ada pihak yang menghentikan langkah mereka.

"Sayangnya itu tidak terjadi, saya pikir mereka dilarang melakukannya. Saya tidak tahu alasan pastinya, tapi mereka benar-benar sedang dalam proses melakukan itu," tambah Taj.

Kegagalan Jackson membeli Marvel justru membuka jalan bagi era keemasan film superhero yang kita kenal sekarang.

Tak lama setelah Marvel keluar dari masa bangkrut, fondasi semesta sinematik mulai terbentuk lewat film Blade (1998) dan X-Men (2000), sebelum akhirnya Sam Raimi menggebrak dunia dengan Spider-Man (2002) yang dibintangi Tobey Maguire.

Sangat sulit membayangkan bagaimana rupa industri hiburan hari ini jika Jackson berhasil membeli Marvel. Jika film Spider-Man versi Michael Jackson benar-benar diproduksi sebagai proyek ambisi pribadi, kemungkinan besar pendekatan estetikanya akan sangat berbeda dengan apa yang kita lihat sekarang.

Besar kemungkinan Marvel Cinematic Universe (MCU) yang kita kenal hari ini tidak akan pernah ada. Kalau saja Michael Jackson gak gagal, kita mungkin tidak akan pernah melihat Robert Downey Jr. sebagai Iron Man atau Chris Evans sebagai Captain America.



Simak Video "Video: Penampilan Terbaru Anak Bungsu Michael Jackson, Makin Mirip Sang Ayah! "

(ass/tia)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork