Pete Docter Bela Keputusan Pixar Hapus Konten LGBTQ dalam Elio

Asep Syaifullah
|
detikPop
Elio
Foto: dok. Disney/Pixar
Jakarta - Chief Creative Officer (CCO) Pixar, Pete Docter, memicu gelombang diskusi panas di industri animasi global setelah memberikan pernyataan tegas mengenai arah baru studio tersebut.

Dalam wawancara terbaru dilansir Variety pada Minggu (8/3/2026), Pete Docter membela keputusan Pixar untuk merombak total film Elio dan menghapus elemen karakter yang dianggap terlalu spesifik pada representasi LGBTQ+.

Pernyataan Docter yang paling disorot adalah ketika ia menegaskan bahwa Pixar sedang "membuat film, bukan fasilitas terapi senilai ratusan juta dolar."

Komentar ini muncul sebagai respons atas kritik internal dan eksternal mengenai hilangnya inklusivitas dalam proyek-proyek terbaru mereka.

Film Elio, yang dijadwalkan tayang pada 2025, awalnya digarap oleh sutradara Adrian Molina (co-director film Coco). Namun, seiring berjalannya produksi, kendali kreatif diambil alih oleh petinggi studio.

Laporan dari orang dalam menyebutkan bahwa versi awal Elio menampilkan karakter utama yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis. Elio digambarkan sebagai anak laki-laki yang artistik, menyukai fashion, dan sempat memiliki adegan yang menunjukkan ia menyukai karakter laki-laki lain.

Namun, setelah melalui sesi test screening dan evaluasi dari pihak Disney, karakter Elio diminta untuk diubah menjadi lebih maskulin. Keputusan ini diambil untuk menghindari apa yang disebut sebagai "percakapan sulit" yang mungkin belum siap dilakukan oleh orang tua dengan anak-anak mereka saat menonton film keluarga.

Kebijakan bermain aman ini ternyata memakan korban di internal studio. Ketegangan kreatif menyebabkan mundurnya beberapa talenta kunci. Sarah Ligatich, asisten editor yang sudah lama bekerja di Pixar, dilaporkan memilih hengkang karena ketidakcocokan visi.

Bahkan, bintang besar America Ferrera, yang semula didapuk mengisi suara ibu Elio, juga meninggalkan proyek tersebut. Posisinya digantikan oleh Zoe Saldaña, dengan perubahan karakter dari sosok Ibu menjadi Bibi Olga.

Perubahan-perubahan ini menunjukkan betapa masifnya revisi yang dilakukan Pixar demi memastikan film tersebut dapat diterima oleh pasar seluas mungkin secara global.

Langkah Pixar ini disebut-sebut sebagai bentuk koreksi arah setelah kegagalan finansial film Lightyear (2022). Saat itu, adegan ciuman singkat sesama jenis dalam Lightyear memicu boikot di beberapa negara dan dianggap menjadi salah satu faktor lesunya pendapatan box office.

Poster baru Lightyear, film animasi Pixar terbaru, tayang Juni 2022.Poster Lightyear, film animasi Pixar terbaru, tayang Juni 2022. Foto: dok. Disney/Pixar

Sejak saat itu, Pixar tampak sangat berhati-hati. Pete Docter menekankan bahwa fokus utama studio saat ini adalah kembali ke elemen hiburan yang universal.

"Tugas kami adalah menceritakan kisah yang bisa dinikmati semua orang di bioskop tanpa merasa sedang dikuliahi atau dipaksa menghadapi isu sosial yang berat," ujar Docter dalam pembelaannya.

Namun, kebijakan ini tidak lepas dari kecaman. Komunitas kreatif dan aktivis inklusivitas menilai Pixar sedang melangkah mundur. Mereka berargumen bahwa dengan menghapus representasi yang autentik, Pixar justru meminggirkan kelompok penonton yang selama ini merasa terwakili oleh keberanian studio di masa lalu.

Dengan anggaran yang mencapai ratusan juta dolar, Elio kini menjadi pertaruhan besar bagi Pixar. Apakah strategi kembali ke arus utama ini akan mengembalikan kejayaan finansial mereka, atau justru membuat mereka kehilangan identitas sebagai studio yang dulu dikenal berani mendobrak batasan cerita?

Film Elio tayang pada 2025 dan menghasilkan USD 150 juta. Jumlah ini lumayan besar jika kita mengabaikan biaya produksinya yang juga mencapai jumlah serupa.

(ass/aay)



TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO