Membedah Practical FX Serial The Beauty
Serial terbaru dari kreator bertangan dingin Ryan Murphy ini tidak hanya menjual premis tentang obsesi kecantikan, tetapi juga menetapkan standar baru dalam genre body horror.
Melalui laporan mendalam Variety (6/3) kita kini mengetahui bahwa kesempurnaan yang ditampilkan di layar adalah hasil dari kerja keras teknis yang melibatkan ribuan liter darah buatan dan inovasi prostetik mutakhir.
Di era di mana banyak studio memilih jalan pintas dengan Computer-Generated Imagery (CGI), sutradara Jennifer Lynch mengambil arah yang berlawanan.
Untuk The Beauty, tim produksi memutuskan bahwa rasa takut penonton harus dibangun dari sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat langsung di lokasi syuting.
"Ada sesuatu yang secara visceral mengganggu ketika Anda melihat kulit silikon robek secara nyata," ungkap kepala tim prostetik dalam wawancara tersebut.
Serial The Beauty (2026). Foto: Dok. FX |
Penggunaan efek praktikal ini memberikan tekstur yang tidak bisa ditiru oleh piksel komputer: kilauan lendir, kontraksi otot buatan, hingga detail pori-pori yang meregang saat karakter bertransformasi.
Setelah tubuh para aktor tertutup cairan lengket dan riasan yang sesuai, mereka akan masuk ke dalam kantong silikon seberat 27 hingga 32 kilogram.
Mereka menggunakan area rentan yang sudah ditentukan sebelumnya sebagai titik untuk merobek keluar saat syuting dimulai, sementara ventilasi khusus di bagian belakang memungkinkan udara bersirkulasi agar mereka tetap nyaman.
Murphy dan para sutradara berkomunikasi dengan para aktor melalui radio yang ditempatkan secara strategis di bawah kantong tersebut, karena dinding silikon yang tebal membuat mereka sulit mendengar satu sama lain.
Tim prostetik, Dave Presto membantu mengoordinasikan proses di lokasi syuting, bersiaga dengan ember-ember berisi lendir untuk disiramkan ke atas kantong segera setelah sutradara meneriakkan action.
"Dalam rekaman itu, kalian bisa melihat lendir berjatuhan dari kantong-kantong tersebut; itu semua nyata. Satu-satunya hal yang mereka tambahkan [di tahap pascaproduksi] hanyalah sedikit efek asap dan gelembung," ujar Presto, yang juga menambahkan bahwa sebagian besar efek visual grafis dalam serial ini dibuat secara manual dengan pengeditan minimal.
"Proses ini membutuhkan sangat banyak silikon," kata Presto.
"Kami menghabiskan sekitar 200 galon (sekitar 757 liter) silikon untuk membuat 25 hingga 30 kantong. Kantong-kantong itu juga sangat berat, dan dengan tambahan lendir, mereka jadi hampir mustahil untuk dikendalikan atau dipindahkan."
"Ryan (Murphy) terus memunculkan ide-ide baru saat syuting berlangsung, karena dia melihat sesuatu di lapangan, lalu mengubah arah yang dia inginkan. Awalnya, kami tidak yakin apakah semua adegan transformasi akan dibuat sama. Namun, hasilnya tidak seperti itu. Setiap transformasi memiliki keunikannya sendiri (bagaikan makhluk yang berbeda)," tambah tim prostetik lainnya, Brett Schmidt.
Bagi para aktor seperti Evan Peters dan Ashton Kutcher, peran ini menuntut ketahanan fisik yang luar biasa. Dilaporkan bahwa beberapa sesi aplikasi riasan dan prostetik memakan waktu hingga 8 jam sebelum kamera mulai merekam.
Dalam salah satu adegan paling ikonik di episode terbaru, penonton diperlihatkan bagaimana zat kecantikan tersebut secara perlahan menggantikan organ tubuh asli manusia. Pesan yang ingin disampaikan jelas: Keinginan untuk menjadi sempurna secara instan dapat menghancurkan kemanusiaan kita dari dalam.
Para kritikus memuji keberanian serial ini dalam menampilkan horor yang elegan namun menjijikkan. Dengan kesuksesan visual ini, The Beauty diprediksi akan mendominasi kategori teknis di ajang penghargaan Emmy mendatang, khususnya dalam desain tata rias dan efek visual.
(ass/aay)












































