Sinopsis:
Setelah putranya, Hamnet, meninggal pada usia sebelas tahun, Agnes Shakespeare dilanda kesedihan yang mendalam. Saat ia berduka bersama suaminya, William, pasangan itu berjuang untuk menerima kerapuhan hidup dan kekejaman wabah penyakit. Berlatar Inggris abad ke-16, Agnes, seorang penyembuh, harus menemukan cara untuk melanjutkan hidupnya dan menghidupi anak-anaknya yang lain.
Review:
Hamnet dibuka dengan tulisan bahwa Hamlet dan Hamnet adalah nama yang sama. Kalau kamu tidak tahu, Hamlet adalah drama terkenal buatan William Shakespeare. Film ini adalah sebuah gambaran yang terjadi tentang bagaimana seorang maestro menciptakan masterpiece-nya yang nantinya akan dimainkan banyak orang di masa depan.
Diadaptasi dari novel berjudul sama-sutradara Chloe Zhao dan penulis bukunya sendiri, Maggie O'Farrell mengadaptasi bersama buku ini- Hamnet dibuka dengan seorang perempuan bergaun merah yang tidur di bawah akar pohon. Ia tidur seperti bayi dalam kandungan ibunya, seolah-olah ia adalah anak dari Bumi. Agnes (Jessie Buckley), nama perempuan itu, memang anak Bumi.
Seperti ibunya, ia memiliki kemampuan yang berbeda dengan manusia biasa. Ia tahu kita harus hidup berdampingan dengan alam dan ia tahu tentang masa depan. Ia bisa melihat apa yang akan datang. Ketika seorang lelaki datang-yang bernama William Shakespeare (Paul Mescal)-mencuri waktunya, Agnes memintanya untuk pergi. Tapi pertemuan itu terlalu berkesan. Agnes tidak memiliki pilihan lain selain jatuh cinta.
Baca juga: 5 Rekomendasi Film Bioskop Weekend Ini |
Tidak butuh lama bagi Agnes dan William untuk segera menjadi keluarga, dengan anak yang akan lahir. Anak di luar pernikahan ini menghebohkan kedua keluarga tapi baik Agnes dan William tidak peduli. Mereka sudah jatuh cinta dan lahirlah Susanna. Meskipun William mendapatkan apa yang ia inginkan tapi ia tidak bahagia. Ia ingin berkarya, bersuara dan bukannya mengerjakan hal yang tidak berguna. Agnes tahu ini dan ia meminta William untuk pergi ke London dan menggunakan penanya.
William akhirnya menemukan jalannya dan Agnes hamil lagi dengan anak kedua mereka. Tapi ternyata anak kedua ini lahir kembar. Agnes kebingungan karena di masa depannya, ia hanya melihat dua anak; bukan tiga anak. Hamnet (Jacibi Jupe) ternyata-dan ini bukan spoiler-nanti akan diambil maut. Dan William maupun Agnes harus mencari cara untuk mencari makna hidup lagi.
Dari awal film dimulai-angin menggerakkan dedaunan dengan lembut, kamera berjalan pelan, suara ambience membuat suasana terasa damai, agak seperti mimpi- Hamnet sudah terasa sendu. Apa yang ditampilkan Chloe Zhao di layar memang indah dan menenangkan. Tapi saya tahu bahwa kita akan dibawa ke dalam sebuah roller coaster emosi yang naik turun. Dan betul saja: Hamnet tidak main-main untuk memancing emosi. Saya yakin banyak orang menangis menyaksikan film ini.
Dari segi cerita, tidak ada yang begitu mind-blowing dari film ini. Tidak ada kejutan yang luar biasa baik dari segi plot atau dari segi karakterisasi tokoh. Yang membuat Hamnet spesial adalah bagaimana sutradaranya membawakan cerita yang "biasa" ini menjadi pengalaman menonton yang spesial. Zhao bekerja sama dengan sinematografer Lukasz Zal untuk menampilkan gambar-gambar yang terasa seperti lukisan. Baju warna merah yang dipakai Agnes terlihat seperti lampu diantara hijaunya dedaunan hutan. Tidak berhenti di sana, Zhao juga membuat blockingan adegan terasa seperti lukisan. Adegan di ending tidak ada bedanya dengan lukisan-lukisan yang dipajang di museum.
Untuk menjual cerita semacam ini dengan efektif tentu saja dibutuhkan aktor yang powerful untuk bisa menyampaikan emosi dengan kuat. Paul Mescal dan Jessie Buckley adalah pilihan yang sangat tepat. Mescal mungkin adalah salah satu aktor langganan cerita sedih paling top saat ini. Aftersun, All of Us Strangers, The History of Sound dan tentu saja Normal People-semuanya mengeksploitasi kemampuan Mescal untuk tampil rapuh.
Dalam Hamnet, ia juga melakukan hal yang sama. Bahkan ketika karakternya harus terlihat keras-seperti saat ia sedang mengarahkan aktornya berakting-ia tetap bisa menunjukkan sisi rapuhnya.
Jessie Buckley bisa jadi akan mendapatkan piala Oscar sebagai Agnes. Ia bersinar dari awal sampai akhir film. Semua emosi bisa ia sampaikan dengan mudah: bahagia, marah, putus asa, sedih, tidak berdaya. Semuanya ia sampaikan dengan begitu natural. Melihatnya meraung memeluk anaknya yang meninggal, kamu bisa merasakan kepedihan dalam teriakannya. Ditambah dengan musik yang mengharu biru dari Max Richter, Hamnet adalah sebuah kisah menarik tentang bagaimana sebuah tragedi menjadi sumber maha karya paling luar biasa yang kita punya.
Hamnet dapat disaksikan di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.
| Genre | Tragedy, Biografi, Psikologi Drama, Drama, History, |
| Runtime | 2 jam 5 menit |
| Release Date | 27 Februari 2026 |
| Production Co. | Hera Pictures, Amblin Entertainment, dan Book of Shadows. |
| Director | Chloé Zhao |
| Writer | Chloé Zhao, Maggie O'Farrell |
| Cast | Jessie Buckley, Paul Mescal, Zac Wishart, James Lintern, Joe Alywn, Justine Mitchell |
Simak Video "Video Friday Film Review: Tinggal Meninggal"
(Candra Aditya/tia)