Industri Film India Dituduh Anti Perempuan Buntut Pilih Fokus Kejar Cuan

Muhammad Ahsan Nurrijal
|
detikPop
Cuplikan adegan dalam film Dhurandhar.
Foto: Dok. Ist
Jakarta - Tren film Bollywood tahun 2025 ini rasanya seperti balik ke setelan pabrik. Setelah tahun 2024 disuguhi banyak cerita keren dari sudut pandang perempuan, di 2025 justru jadi panggung buat film-film action yang maskulin.

Media sosial di India sedang ramai membahas film Dhurandhar. Film bertema spionase ini sukses besar tapi penuh adegan kekerasan yang brutal. Padahal dua tahun lalu, India punya film-film pemenang penghargaan seperti All We Imagine As Light dan Laapataa Ladies yang lebih lembut dan menyentuh.

"Tahun 2024 membuktikan kalau sutradara perempuan India itu bukan sekadar pelengkap, tapi suara utama di kancah global," kata kritikus film, Mayank Shekhar, dikutip dari BBC, Sabtu (3/1/2026).

Sayangnya, harapan agar cerita tentang perempuan makin populer malah redup di 2025. Dari 10 film box office terlaris, hampir semuanya didominasi jagoan pria yang gagah perkasa, mulai dari Chhaava sampai War 2. Satu-satunya film perempuan yang masuk daftar cuma film pahlawan super Malayalam berjudul Lokah.

Bukan cuma film action, film romantis juga sama saja. Contohnya film Saiyaara yang ceritanya tentang rockstar pria yang jadi penyelamat buat pasangannya. Lalu ada film Tere Ishk Mein yang dibintangi Dhanush. Meskipun dikritik karena dianggap meromantisasi hubungan yang toxic, film ini tetap laku keras dan meraup cuan triliunan Rupiah.

"Hanya butuh waktu satu tahun untuk mengubah keadaan itu tidak realistis. Kita butuh lebih banyak waktu dan lebih banyak cerita yang menempatkan perempuan sebagai pusatnya," ujar Priyanka Basu, pengajar senior di King's College London.

Bahkan tren di platform streaming yang dulunya jadi tempat aman buat cerita perempuan, sekarang ikut berubah. Berdasarkan laporan riset Ormax, konten bertema perempuan di platform digital anjlok drastis dari 31% di tahun 2022, jadi cuma 12% di tahun 2025. Platform OTT sekarang malah lebih banyak ngejar genre action dan kriminal demi angka penonton.

"Pada titik tertentu, platform OTT mulai mengejar logika box office. Sekarang streaming cuma mencerminkan tren bioskop, bukannya mencoba menantang tren tersebut," ucap Mayank Shekhar.

Penulis skenario, Atika Chohan, punya pandangan kalau tren film yang super macho dan cenderung misoginis (merendahkan perempuan) ini adalah bentuk reaksi atau perlawanan terhadap gerakan MeToo yang sempat ramai beberapa tahun lalu.

"Selama film-film (hyper-maskulin) ini menghasilkan uang, mereka tidak akan pergi kemana-mana," jelas Atika Chohan.

Untungnya, masih ada secercah harapan dari industri film regional dan independen. Film-film seperti The Girlfriend (Telugu) yang berani bahas hubungan toxic, atau komedi Feminichi Fathima (Malayalam) tentang pemberontakan seorang ibu rumah tangga, tetap hadir sebagai penyeimbang.

Meski skalanya lebih kecil, gerakan dari film-film regional ini dianggap sangat penting untuk menjaga kualitas cerita di industri film India agar tidak melulu soal maskulinitas dan ledakan.


(ahs/tia)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO