Film Sci-fi Christopher Nolan Rp 5,7 Triliun Ini Karya Terbaik yang Terlupakan
Di tengah sorotan terhadap proyek baru tersebut, satu film lama Nolan kembali ikut dibicarakan. Adalah Tenet (2020), film fiksi ilmiah ambisius yang hingga kini masih sering disebut sebagai karya terbaik Nolan yang paling diremehkan.
Dirilis pada masa pandemi, Tenet memang langsung menuai kontroversi. Dengan bujet mencapai US$ 365 juta atau sekitar Rp 5,7 triliun, film ini mengusung konsep perjalanan waktu yang kompleks, dibalut genre spionase dan teori fisika tentang entropi terbalik, lengkap dengan skala visual yang besar.
Film ini dibintangi John David Washington, Robert Pattinson, Elizabeth Debicki, Kenneth Branagh, dan Michael Caine. Christopher Nolan menulis naskahnya selama lebih dari lima tahun. Cerita berpusat pada sosok Protagonist (Washington), seorang agen rahasia yang direkrut organisasi bernama Tenet untuk mencegah bencana global di masa depan.
Dalam perjalanannya, Tenet memburu teknologi senjata yang bergerak berlawanan dengan alur waktu. Teknologi tersebut berada di tangan Andrei Sator (Branagh), oligarki Rusia yang menjadikannya alat ancaman bagi kelangsungan dunia.
Mulai dari adegan penyerbuan di gedung opera Kyiv hingga aksi kejar-kejaran lintas negara, Tenet menyuguhkan rangkaian adegan aksi berskala besar yang jarang ditemui, bahkan untuk ukuran film blockbuster Hollywood.
Berbeda dengan Inception atau Interstellar, Tenet tidak berusaha memanjakan penonton dengan penjelasan panjang. Sejak awal, penonton langsung diperkenalkan pada fenomena aneh seperti peluru yang kembali ke laras senjata. Nolan memilih membiarkan penonton mengikuti alur dan menyerap konsepnya seiring cerita berjalan.
Dari sisi visual, sinematografi garapan Hoyte van Hoytema menjadi salah satu daya tarik utama. Adegan perkelahian dengan karakter yang bergerak mundur, kecelakaan mobil terbalik, hingga perampokan yang melibatkan manipulasi waktu dieksekusi dengan detail teknis yang rapi.
Meski demikian, Tenet juga memiliki catatan. Pendalaman emosional karakter terasa minim, terutama pada hubungan personal antar tokohnya. Subplot Kat (Elizabeth Debicki) dan anaknya cenderung hadir sebagai penggerak cerita, bukan pusat emosi film.
Namun justru pendekatan itulah yang membuat Tenet unik. Film ini lebih tepat dinikmati sebagai pengalaman sinematik, bukan teka-teki yang harus langsung dipahami dalam satu kali tonton.
Lima tahun setelah dirilis, Tenet tetap menjadi salah satu film Hollywood paling berani secara konsep. Dengan struktur cerita yang berlapis dan visual spektakuler, film ini perlahan menemukan posisinya sebagai klasik modern sekaligus salah satu karya Christopher Nolan yang baru benar-benar diapresiasi seiring waktu.
(fbr/aay)











































