BTS Boikot Grammy Guncang Industri K-Pop

Atmi Ahsani Yusron
|
detikPop
Foto BTS buat BTS Festa 2026.
(Foto: dok. BIGHIT MUSIC/HYBE) Foto BTS buat BTS Festa 2026.
Jakarta - Keputusan BTS untuk boikot Grammy berimbas ke industri K-Pop secara keseluruhan. Kini manajemen K-Pop maju-mundur buat mengirimkan karya untuk jadi pertimbangan nominasi Grammy 2027.

Deadline setor karya akan ditutup pada 21 Agustus mendatang. Dilansir dari Korea JoongAng Daily pada Kamis (6/8/2026), beberapa manajemen mengaku masih menunggu 'kondisi kondusif' baru mengumumkan soal keputusan mereka kirim karya atau nggak.

"Masih ada beberapa minggu tersisa, kami memantau bagaimana situasi ini berkembang. Belum ada yang diputuskan hingga saat ini," kata satu agensi yang meminta namanya dirahasiakan.

Boikot BTS bikin manajemen K-Pop gak berani mengungkapkan keputusan mereka buat kirim karya ke Grammy. Mengingat aksi Jimin cs memang mengundang pro dan kontra.

Fans mendukung apa yang dilakukan BTS, menilai bahwa sikap pelantun SWIM itu merupakan bentuk tegas penolakan klasifikasi musik secara regional lewat kategori Best Asian Pop Music Performance.

Dukungan fans terhadap sang idola membuat gak sedikit dari mereka bereaksi keras atas keputusan manajemen artis lain yang masih mempertimbangkan buat kirim karya ke Grammy 2027.

Di satu sisi, kategori Best Asian Pop Music Performance jadi kesempatan besar buat artis Asia mana pun menang penghargaan tahunan bergengsi AS itu. Tapi di sisi lain, mereka bisa dinilai 'memihak Grammy' yang selama ini ada dalam pusaran isu double-standard dan rasisme terhadap musisi Asia.

Beberapa pihak bicara soal keputusan BTS ini termasuk Zeena Koda, anggota komite penasihat untuk Gold Music Alliance dari The Recording Academy (organisasi yang menggelar Grammy). Secara terbuka dia membela kategori baru yang diluncurkan Grammy Juni lalu.

Lewat sebuah unggahan Instagram, dia merasa bahwa kategori ini bukan untuk mengkotak-kotakkan. Justru ini untuk memperkenalkan musik Asia lebih jauh lagi.

"Sungguh menyedihkan dan mengecewakan melihat bagaimana masalah ini ditangani, padahal begitu banyak orang di balik layar telah berjuang keras untuk meningkatkan visibilitas bagi kalangan Asia di ajang Grammy," tulisnya.

"Ini adalah kategori baru dan tidak ada yang sempurna... dalam banyak hal, kategori ini sebenarnya sama sekali bukan untuk BTS. Kategori ini ditujukan bagi artis yang membutuhkan lebih banyak visibilitas dan sorotan, bukan untuk superstar pop yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun," lanjut Zeena Koda.

CEO Grammy Harvey Mason Jr. (kiri, di podium).CEO Grammy Harvey Mason Jr. (kiri, di podium). Foto: dok. Instagram @harveymasonjr

Meski begitu, langkah BTS diapresiasi oleh kritikus musik Korea Selatan Lim Hee Yun. Dalam sebuah wawancara dengan media lokal, keputusan BTS dirasa menjadi gebrakan besar.

"Ketika seorang artis dengan pengaruh sosial sebesar BTS menyatakan, 'jangan batasi kami dalam kategori pop Asia' dan pesan tersebut mendapat sambutan luas, Grammy bisa saja bergerak ke arah yang lebih inklusif," kata Lim.

Di sisi lain, Lim Hee Yun merasa penambahan kategori khusus Asia di Grammy seharusnya gak perlu terlalu dianggap penting. Menurut dia, sistem Grammy sejak awal bukan perayaan musik global yang merepresentasikan seluruh skena musik di dunia.

Grammy, menurut Lim Hee Yun, hanyalah bisnis jualan musik di pasar Amerika. Jadi, pengelompokan produk berdasarkan kriteria yang mereka buat sendiri sebenarnya hanya demi bisnis dan jualan semata.

"Pada dasarnya, ini hanyalah soal pihak-pihak yang menjual rekaman di pasar Amerika mengelompokkan produk mereka berdasarkan kriteria mereka sendiri. Reaksi keras yang muncul mungkin disebabkan oleh mitos seputar otoritas Grammy, tapi menurutku, tidak ada perlunya merasa terobsesi untuk memenangkannya," tutup dia.

(aay/mau)




TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO