Ekspor Album K-Pop Tembus USD 100 Juta Awal 2026
Dilansir Yonhap via Korea JoongAng Daily, data Layanan Bea Cukai Korea mencatat ekspor album K-Pop mencapai angka tertinggi USD 120 juta atau setara Rp 2.068.710.000.000 menurut kurs pada 28 April (USD 1 = Rp 17.239,25 di Google Finance).
Kenaikan angka ekspor ini terus terlihat sejak kuarter ketiga tahun lalu, hingga mencapai puncaknya di awal tahun ini. Bea cukai menyebutkan kenaikan ekspor album K-Pop di kuarter pertama 2026 disebabkan karena fandom yang kini lebih besar dari sebelumnya.
Selain itu, dalam pernyataan mereka, permintaan terhadap album fisik juga naik signifikan di era streaming ini. Diduga karena ada fans yang mulai jenuh dengan album digital dan aktivitas streaming online.
Amerika Serikat saat ini jadi pasar terbesar ekspor album fisik K-Pop, menyumbang 28% dari angka yang disebutkan di atas. Sebelumnya pasar terbesar dipegang oleh Jepang, yang masih nomor #1 hingga akhir tahun lalu, tapi kini turun tangga.
Baca juga: BTS Cetak Rekor Baru Lewat Album Arirang |
Negara pengimpor album K-Pop tertinggi ketiga setelah AS dan Jepang adalah Eropa dengan kontribusi 16,5%. Diikuti oleh China 14,4% dan Taiwan 6,9%.
Kenaikan angka ekspor di kuarter pertama tahun ini juga disebabkan oleh terbukanya pasar K-Pop baru di berbagai negara di dunia. Layanan Bea Cukai Korea menyebut perkembangan pasar di awal tahun ini cukup luas.
Alih-alih terkonsentrasi pada negara-negara yang sudah ada di daftar pengimpor sejak lama, 2026 menunjukkan tumbuhnya pasar baru.
Sejauh ini ada 131 negara di dunia yang jadi tujuan ekspor CD fisik K-Pop, dengan 94 di antaranya mencatat permintaan terbesar dalam satu kuarter.
Laporan kenaikan angka ekspor album K-Pop ini muncul di tengah usaha kelompok fans dalam mengurangi jumlah sampah yang ditimbulkan oleh album fisik. Organisasi non-profit seperti Kpop4Planet selama ini gencar menyuarakan soal limbah CD K-Pop yang pada tahun 2022 mencapai 800 ribu kilogram di seluruh dunia.
Agensi K-Pop kini berusaha membuat album dari bahan-bahan yang ramah lingkungan dan material yang mudah terurai alami. Termasuk tinta dari kedelai hingga lapisan album dan photobook berbahan air.
Namun terlepas dari usaha itu, over-produksi tetap terjadi karena permintaan dan budaya marketing photocard yang masif. Nyatanya ini masih menyumbang sampah yang signifikan, dibarengi fakta bahwa CD yang dibeli hanya diputar oleh 12,7% fans saja, dilansir dari berbagai sumber.
(aay/mau)











































