Park Chan Wook: Industri Film Korea Mengkhawatirkan

Atmi Ahsani Yusron
|
detikPop
Sutradara Korea Selatan Park Chan Wook menghadiri 80th Annual Golden Globe Awards di The Beverly Hilton, Beverly Hills, California, pada 10 Januari 2023.
(Foto: Getty Images/Amy Sussman) Park Chan Wook.
Jakarta - Sutradara kenamaan Korea Selatan Park Chan Wook bicara soal krisis yang dihadapi industri perfilman Korea. Menurutnya fase krisis sudah mengkhawatirkan.

Dalam sebuah wawancara dengan The Independent, sutradara No Other Choice itu menyebut industri film Korea terlihat gemilang di luar tapi redup di dalam. Krisis dalam industri bukan lagi rahasia.

"Beberapa film Korea mungkin dikenal dunia, tapi fakta industri film tengah mengalami krisis parah ini bukan rahasia lagi. Itu karena bioskop kita sedang dalam dalam masalah besar," katanya dilansir dari Chosun Biz pada Rabu (21/1/2026).

Park Chan Wook bilang krisis sudah mulai terasa sejak pandemi COVID-19. Penonton bioskop mulai menurun drastis.

Ditambah lagi pada saat itu, penonton potensial bioskop menemukan hiburan lain: menonton di layanan streaming. Ini jadi masalah besar menurutnya.

"Mereka gak balik ke bioskop lagi sejak itu," kata Park Chan Wook.

Si sutradara pemenang penghargaan Best Director di Asian Film Awards 2023 buat Decision to Leave itu juga bilang, krisis disebabkan karena siklus berulang yang dilakukan perusahaan produksi film.

Bukan cuma karena pilihan mereka buat beralih ke layanan streaming. Tapi juga pertimbangan bisnis yang membuat banyak film yang tayang gak punya kualitas terlalu baik.

"Investor sudah pelit dana ke film-film. Bahkan ketika mereka memutuskan untuk berinvestasi, mereka gak memilih cerita-cerita yang tajam," kata Park Chan Wook.

"Investor justru memilih proyek yang mereka sebut 'aman'. Hasilnya, setelah film itu tayang di bioskop, penonton menyadari ceritanya terlalu bisa diprediksi dan gak menarik. Jumlah penonton dan pendapatan berkurang, akhirnya investor makin pelit berinvestasi ke film lagi," tegasnya.

Tahun lalu krisis industri film Korea sampai dibahas di rapat kabinet yang dipimpin langsung Presiden Lee Jae Myung.

Dalam rapat disoroti bagaimana tantangan berat yang dihadapi produksi budaya populer Korea saat ini, terutama film bioskop. Dari semua sektor K-content, film bioskop jadi yang paling kena imbas.

Dilansir dari The Korea Times, menteri menyoroti bagaimana industri film komersial yang sebelumnya mencapai 60 judul per tahun anjlok menjadi hanya sepertiganya pada 2025. Udah gitu gak ada film tahun ini yang bisa tembus 10 juta penonton.

DJ ENM, distributor sekaligus rumah produksi film yang biasanya muncul dengan judul-judul populer dan laris secara komersial, tahun ini cuma bisa bikin 1 film yang mereka biayai sendiri.

Chae Hwi Young menjelaskan akar masalah terpuruknya film yang tayang di bioskop Korea Selatan. Salah satu penyebab utamanya adalah platform streaming global seperti Netflix.

Eksistensi Netflix di Korea Selatan lewat produksi originalnya yang mendunia ternyata malah bikin industri film lokal jatuh. Bioskop jadi makin sulit buat menarik penonton beli tiket, berujung gak ada lagi film yang tembus 10 juta penonton.

Selain itu, penurunan pemasukan dari box office juga bikin investasi berkurang, jumlah produksi menurun, berujung ekosistem industri gak stabil.

Nah, Kementerian Kebudayaan berencana mengurangi risiko investasi. Pemerintah Korsel juga akan menaikkan tingkat loss provision (cadangan kerugian) dari 15 persen menjadi 20 persen dan mengurangi porsi keuntungan pemerintah. Dengan begitu, porsi keuntungan sektor swasta akan meningkat dari 30 persen menjadi 40 persen.

(aay/dar)




TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO