Skena Seni Bali Merapat! 3 Galeri Segera Dibuka di Satyanara Ubud

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Jumpa pers Satyanara Ubud
Foto: Tia Agnes/ detikcom
Jakarta - Destinasi seni terpadu Satyanara kembali hadir di Kedewatan, Ubud. Dibuka untuk umum pada 23 Oktober, Satyanara yang berada di bawah naungan Yayasan Satya Djaya Raya bakal jadi ruang temu bagi seniman, komunitas, praktisi budaya, dan pencinta seni lokal serta mancanegara.

Dalam satu kawasan, Satyanara bakal menghadirkan tiga galeri seni: Ubud Art Ground, Fluid Kinship, A Brush Between Worlds

Direktur Ubud Art Ground, Yuanita Sawitri, mengatakan platformnya sudah dibuka sejak tahun lalu di sebuah gudang kayu tua yang ada di kawasan Ubud. Edisi keduanya pun bakal hadir kembali di Satyanara.

"Tahun lalu tema yang kita usung jadi fondasi ketika sebuah tradisi, budaya, bida terus dikembangkan bahkan bisa beralih ke zaman. Ubud Art Ground berdiri bahkan sebelum bangunannya jadi, ini akan buat yang kedua. Kan berawal dari sisi budaya, tradisi, dan eksplorasi," katanya saat jumpa pers di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2026).

Di pameran yang keduanya juga bermula dari riset anak-anak Ubud yang diprakarsai yayasan untuk mengeksplorasi soal warna. Ada 32 seniman dari Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Solo yang akan ikut berpameran dan dikuratori Hendro Wiyanto.

Pameran seni Ubud Art Ground #2: Letters to Colour, juga nampilin beberapa seniman senior yang diundang, salah satunya Ichwan Noor. Pameran hingga 24 Januari 2027

"Di Bali itu, punya kosmologi warna. Kalau kita tahu warna primer itu merah, biru, kuning, di Bali ada merah, kuning, hitam, dan putih. Dan warna-warna itu yang diangkat oleh seniman konemporer," katanya.

Di pameran seni kedua Fluid Kinship dikuratori oleh Mella Jaarsma dan Yipei Lee bakal mengeksplorasi hubungan manusia dengan lanskap budaya dan lingkungan khususnya di sistem pangan.

Nantinya, bakal ada 5 seniman yang bakal bahas juga sumber kehidupan air atau Subak yang jadi ciri khas di Pulau Dewata. Eksibisinya berlangsung sampai 30 April 2027.

Nah, di galeri seni kedtiga bakal menampilkan A Brush Between Worlds karya mendiang Professor Chou Cen. "Gimana lukisan tradisional China yang ada sejak masa lampau atau abad ke-8 menurut sejarah, tetap bertahan sampai masa modern. Gimana kami ingin memperlihatkan lukisan yang masih dilestarikan sampai sekarang," katanya.

Director of Public Relations of Lyman Group, Albertus Patomo pun berharap Satyanara dengan 3 galeri seninya bukan cuma bangunan fisiknya saja namun tempat untuk hidup. "Untuk hidup maka membuka diri kepada semua pihak, salah satunya seni budaya. Untuk berinteraksi dan kolaborasi," pungkasnya.

(tia/dar)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO