Jauh sebelum Blok M yang kini ngehits jadi kawasan nongkrong anak muda, Kemang lebih dahulu populer. Kemang yang ada di selatannya kota Jakarta sudah dikenal sebagai hunian elit sampai pusat gaya hidup Ibu Kota, serta pusatnya seni-desain.
Pada 1962, Hadiprana Gallery berdiri sebagai galeri seni pertama di Indonesia. Menyusul Edwin's Gallery yang mengukuhkan namanya di Juli 1984. Satu per satu, galeri seni dan furniture bermunculan.
Merespons berkembangnya Kemang sebagai distrik seni, Yayasan Design+Art Indonesia membuat Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD). Di edisi yang ke-16, ICAD tetap berlokasi di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan. Dengan bentuk fasad dan ruang-ruang yang sama, ICAD meleburkan fungsinya sebagai ruang seni-desain, serta pengunjung hotel.
Festival Director ICAD, Edwin Nazir, mengatakan sejak awal berdiri ICAD selalu menjadi ruang untuk mempertemukan seni, desain, dan berbagai disiplin kreatif secara inklusif.
"Di ICAD 16, kami membuka ruang bagi seniman dan praktisi kreatif dari Indonesia dan mancanegara untuk menghadirkan karya dan perspektif mereka," ungkapnya sebelum opening pada Rabu (7/10/2026).
Menurut Edwin, apa yang ditawarkan ICAD dengan pemakaian area publik dari fasad gedung sampai 11 kamar adalah untuk merespons ruang. "Karena dari awal ingin buat seni kontemporer dan desain dekat dengan masyarakat, semua bisa menikmati pengalaman seni dengan cara berbeda," ungkapnya.
Jejak 'Being Becoming' dari 40 Seniman-Pelaku Kreatif
Apa yang beda dari edisi kali ini? Pertanyaan itu selalu muncul saat membicarakan eksibisi yang sudah berjalan belasan kali tersebut. Yup, ICAD tak mau kehilangan ruh-nya sebagai pameran seni.
Dengan sistem kuratorial open call dan undangan, ada 150 pelaku kreatif yang mengirimkan proposalnya. Sejak awal dibuat, ICAD yang dikuratori oleh Harry Purwanto, Itjuk Rahayu, dan Putra Hidayatullah, sudah terpikirkan untuk menyentil kondisi saat ini (being) dan kemungkinan untuk terus berkembang melampaui kondisi tersebut (becoming).
"Para seniman kami kasih teks kuratorial yang mempertanyakan 4 hal sebenarnya. Terkait gimana yang membentuk kita, tanah tempat kita tinggal, gimana obyek merekam sejarah atau cerita, dan kemungkinan masa depan diproyeksikan," terang Putra.
Lewat karya-karya yang dihadirkan, muncul cara-cara baru untuk melihat kembali isu-isu seputar kekuasaan, ingatan budaya, perkembangan teknologi, hingga pengalaman personal setiap individu. Yang spesial tahun ini, gak cuma dari Indonesia saja nih yang berpameran tapi ada dari Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Palestina, Turki, Prancis, Belanda, Uganda, dan AS.
Tahun ini, tribute pada seniman asal Bali Made Wianta dipilih dalam program Special Appearance. Di kategori In Focus, Putu Sutawijaya, pelukis asal Yogyakarta yang dikenal luas melalui karya-karya figuratifnya. Ada juga Ahmet Öğüt, seniman lintas media berbasis di Belanda yang mengangkat solidaritas terhadap Palestina melalui karyanya.
Di kategori Featured, Jamaluddin Phonna, seniman asal Aceh yang juga dikenal sebagai filmmaker dokumenter dan peneliti, mengangkat cara masyarakat setempat mengenang peristiwa tsunami. Sementara Larissa Sansour, perupa asal Palestina yang menggunakan fiksi ilmiah untuk membahas sejarah dan identitas bangsanya.
ICAD 16 berlangsung hingga 8 November 2026 di grandkemang, Kemang, Jakarta Selatan, ya gengs. Eksibisinya gak dipungut biaya apapun alias gratis ya!
Simak Video "Mengeksplorasi Keunikan Museum 3D di Semarang"
(tia/pus)