Museum Bing Slamet Resmi Dibuka, Warisan bagi Generasi Muda
Dalam sambutannya, Museum Bing Slamet yang dibangun Kementerian Kebudayaan berasal dari rumah peninggalan sang maestro. Rumahnya masih mempertahankan arsitektur dan ruang-ruang aslinya lewat renovasi ringan untuk jaga nilai budaya.
"Rumah ini adalah tempat perjumpaan. Di rumah ini saya dengar juga karena saya pernah menulis buku tentang Idris Sardi, dan juga saya mendengar cerita-cerita dari para seniman budayawan adalah tempat bertemu, perjumpaan, dialog, diskusi dari para seniman budayawan di zaman itu khususnya di tahun-tahun 1950-an, 1960-an, dan 1970-an," katanya dalam keterangan yang diterima, Senin (28/9/2026).
Ia berharap keberadaan Museum Bing Slamet dapat berkembang jadi salah satu kantong budaya di tengah masyarakat Johar Baru.
"Yang paling penting masyarakat yang ada di sini mendukung supaya museum jadi salah satu pusat budaya dan tempat untuk belajar, mengapresiasi, mengenang, dan juga memberikan inspirasi," ungkapnya.
Direktur Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan, mengatakan kehadiran museum ini jadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memastikan museum hadir di tengah ruang publik.
"Kementerian Kebudayaan pada tahun 2026 melakukan revitalisasi terhadap sekitar 200 museum dan cagar budaya secara bertahap. Museum Bing Slamet menjadi salah satu museum yang ditata dan diselesaikan pada tahun ini," ungkapnya.
Museum Bing Slamet menghadirkan delapan area yang menceritakan perjalanan hidup sang maestro, mulai dari masa kecil, musik, lawak, film, memori keluarga, jejaring seniman, perjuangan kemerdekaan, hingga ruang apresiasi masyarakat. Koleksi yang ditampilkan antara lain gitar, piringan hitam, piagam penghargaan, foto keluarga, surat pribadi, pakaian, serta berbagai memorabilia Bing Slamet.
Gak cuma itu saja nih detikers, di dalam museum juga menyajikan sejumlah ruang autentik rumah Bing Slamet yang dipertahankan sebagai bagian dari narasi museum. Sejumlah media interaktif turut dihadirkan, seperti radio lama, headphone bergaya vintage, AI photo booth, dubbing suara, hingga peta digital Jakarta tempo dulu. Pendekatan ini dirancang agar generasi muda dapat mengenal sejarah melalui pengalaman yang interaktif dan partisipatif.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
