Antusias Tinggi, Pameran di Museum MACAN Diperpanjang hingga 7 Oktober
Kabar ini dibagikan oleh tim Museum MACAN dalam keterangan pers yang diterima detikcom. Berikut rangkaian pameran yang bisa detikers lihat:
1. Riar Rizaldi: Period Piece
Pameran museum pertama sang seniman dan sineas di Indonesia, setelah menjalani karier internasional di sejumlah institusi ternama dan festival film bergengsi.
Melalui pameran Period Piece, Rizaldi menelusuri bagaimana gagasan kemajuan di Indonesia selalu terikat pada sistem kerja kolonial dan eksploitasi sumber daya alam Pameran ini berpusat pada Bioskop Asymptotic (2026), sebuah instalasi baru yang dikerjakan atas komisi Museum MACAN, yang membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang di mana waktu seolah terhenti secara spekulatif. Karya ini ditampilkan bersama Fanfictie: Volcanology (2025), yang mengkaji benturan antara ilmu pengetahuan kolonial Belanda dan kosmologi Jawa, serta Tropenkolder (2026).
2. Menelan Cakrawala
Menghadirkan karya-karya modern dan kontemporer melalui beragam medium dan praktik oleh Akiq A.W., Anselm Kiefer, Antoine A.J. Payen, Dede Eri Supria, Eddy Susanto, Franz Wilhelm Junghuhn, Heinz Mack, I Nyoman Masriadi, Ipeh Nur, Jan Daniel Beynon, Jean Dubuffet, Lang Jingshan, Moelyono, Raden Saleh, Robert Rauschenberg, S. Sudjojono, ThαΊ£o NguyΓͺn Phan, Theaster Gates, Wakidi, dan Zao Wou-Ki, Menelan Cakrawala menelusuri bagaimana lanskap diproduksi melalui budaya visual di berbagai rezim penglihatan. Karya-karya ini mempertanyakan bagaimana kekuatan-kekuatan yang membentuk masa lalu terus menghidupkan dan memperumit dunia hari ini.
3. Dawn Ng: Atlantis II
Menggunakan es sebagai material paling fana yang tersedia di iklim tropis kota asalnya, Singapura, Dawn Ng merekam perjalanan waktu dari wujud menuju ketiadaan lewat Atlantis II. Lewat balok-balok es berpigmen yang masing-masing berbobot hingga 80 kilogram dan digantung di atas tumpukan kertas xuan Tiongkok, es yang perlahan mencair membuat pigmen turun meresap ke setiap lapisan, meninggalkan formasi-formasi cair yang menyerupai nebula yang melayang atau kepulauan yang luruh perlahan. Disusun secara berurutan, Ng menyebutnya sebagai "permadani waktu", di mana setiap lapisan merekam tahap kemusnahan yang berbeda.
4. Marcos Kueh: Kenyalang Circus
Sebuah presentasi khusus perupa asal Malaysia, menghadirkan tapestri dengan teknik melalui tenun digital industri yang mereproduksi simbol-simbol sakral Borneo. Menyoroti tiga rangkaian karya, instalasi monumental Kenyalang Circus: Nenek Moyang (2023), seri Woven Poster, dan Kerbau ia mengkritisi bagaimana warisan budaya dipentaskan, dikomersialisasikan, dan dikonsumsi.
Di periode spesial ini, Museum MACAN memberikan paket tiket dan merchandise untuk pengunjung yang berlaku mulai 1 September. Cek di media sosial museum ya.
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
