Setelah meraih penghargaan Most Promising Artist of the Year pada tahun 2023, Begok Oner berhasil memboyong karya terbarunya. Lukisan Urban Realism Layers bawa nama Begok Oner memenangkan UOB Painting of the Year Indonesia ke-6 yang diumumkan pada Kamis malam (24/9/2026).
Lukisan Urban Realism Layers memadukan lapisan gambar, kata-kata, dan jejak dari waktu ke waktu. Ia memakai semen plester dan tekstur berlapis sehingga ciptain kesan relier pada permukaan karyanya dan yang merefleksikan kondisi saat ini.
Begok Oner yang memiliki nama asli Gian Sugihartono cerita kalau karyanya mencoba memahami realitas urban yang berlapis-lapis.
"Karya ini berangkat dari ketertarikan saya kepada dinding sebagai ruang sosial dan medium komunikasi manusia. Memahami coretan-coretan dinding, bukan sekedar representasi visual, tetapi tindakan sosial," katanya usai menerima penghargaan di The Melting Pot, Ashta District, Jakarta Pusat, Jumat (25/9/2026).
Secara teknis, Begok Oner mengambil permukaan tembok yang merepresentasikan lanskap urban kota. Di dalamnya juga ada coretan yang terinspirasi dari lukisan gua cadas di Liang Metaduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang didaulat sebagai lukisan purba tertua di dunia berusia 67.800 tahun silam.
Seniman yang kini tinggal di Yogyakarta itu, latar belakangnya adalah seniman grafiti dan street art menambahkan jejak masa lampau ke dalam lukisannya. "Saya berpikir ketika ada manusia prasejarah meninggalkan jejak di dinding saya, itu kan sudah mendahului bahasa tulis ya," katanya.
"Di sini, saya gak cuma sekadar jadi seniman tapi juga pengamat dan bagian dari ruang sosial tersebut. Saya menjadi bagian dari ruang itu, yang saya coba tawarkan bukan sekadar penemuan artistiknya, tapi ke cara pandang bagaimana manusia merespons kehidupan lewat medium yang bisa diakses olehnya," ucapnya.
Begok Oner menghubungkan bahasa visual kontemporer tersebut dengan lukisan gua prasejarah. Mulai dari gua Lascaux yang terkenal di Prancis hingga situs seni cadas kuno di Sulawesi Selatan. Karya ini menyoroti dorongan manusia yang telah berlangsung sejak dahulu untuk berkomunikasi dan terhubung satu sama lain.
Salah satu tim juri, Agung Hujatnika, cerita lukisan ini merupakan sebuah keberanian bereksplorasi dari Begok Oner untuk berkarya.
"Background Begok Oner adalah street art dan grafiti. Bagaimana coret-coret di kota digabungkan sama data dari Google, tapi tetap konsisten dengan tema ini sampai menunjukkan progress secara bertahap. Ada tagging semacam penanda eksistensi di sini. Dia membangun tembok, mirip tembok ya, tapi ini ada kanvasnya, yang digabung stereoform. Ditatah image yang diambil dari gua cadas tertua di dunia," katanya.
Menurut Agung, Begok Oner berhasil melampaui seni lukis itu sendiri atau beyond painting. "Imajinasi dia dan menghubungkan dengan Leang-leang serta grafiti Indonesia itu luar biasa, beyond painting," pungkasnya.
Lukisan Begok Oner bakal dikompetisikan ke tingkat regional dan melawan seniman dari Singapura, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
Simak Video "Mengeksplorasi Keunikan Museum 3D di Semarang"
(tia/pus)