Museum MACAN mengumumkan rangkaian program pameran sepanjang 2026. Museum yang terletak di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu menyatukan karya-karya modern dan kontemporer melalui berbagai praktik yang berbeda.
Di rangkaian pertama, Museum MACAN menghadirkan Period Piece karya perupa dan pembuat film Riar Rizaldi. Karya komisi baru untuk Museum MACAN menandai pameran museum perdana sang perupa setelah dikenal luas di panggung internasional.
Riar Rizaldi dikenal luas atas praktiknya yang berpijak ada persimpangan antara teknologi, sejarah kolonial, dan lanskap industri ekstraktif di seluruh Asia Tenggara. Karya-karyanya telah diputar di berbagai institusi ternama seperti MoMA New York, The Centre Pompidou Paris, Venice Architecture Biennale, serta festival film internasional termasuk Berlinale, Locarno, Viennale, dan BFI London.
Pameran ini bakal menelusuri sejarah-sejarah terabaikan yang tertanam dalam sistem teknologi dan industri, yang berpuncak pada sebuah instalasi respons-tapak (site-responsive) yang mengimajinasikan kembali memori spasial dan budaya dari sinema era 1990-an.
Pameran seni kedua adalah Menelan Cakrawala (Swallow the Horizon), menghadirkan sepilihan karya modern dan kontemporer. Mulai dari Raden Saleh, Franz Wilhelm Junghuhn, Heinz Mack, Robert Rauschenberg hingga Dede Eri Supria, I Nyoman Masriadi, Ipeh Nur, dan Thảo Nguyên Phan.
Eksibisi ini menelusuri bagaimana lanskap dibentuk melalui berbagai berbagai cara pandang (regimes of vision). Pameran ketiga, karya perupa asal Singapura, Dawn Ng yang mempersembahkan Atlantis II.
Material es menjadi elemen penting dalam praktik artistik Ng sifatnya yang fana sekaligus sebagai material yang tersedia di iklim tropis negara asalnya, Singapura. Melalui medium ini, ia menelusuri perjalanan waktu, dari kehadiran menuju ketiadaan. Ng telah mendapatkan komisi dari National Gallery Singapore, Asian Civilisations Museum, dan Hermès Foundation. Karya-karyanya telah menjadi bagian dari berbagai koleksi institusi-institusi penting di dunia, termasuk diantaranya UBS Art Collection, National Gallery Singapore, Ueshima Museum, dan Singapore Art Museum.
Di area Sculpture Garden, Museum MACAN juga akan menghadirkan Kenyalang Circus, sebuah presentasi tunggal oleh perupa tekstil asal Malaysia, Marcos Kueh. Bekerja di persimpangan antara tradisi tekstil vernakular dan budaya visual kontemporer, Kueh memproduksi permadani (tapestry) melalui teknik tenun digital industri yang mereplikasi simbol-simbol sakral Borneo, menghasilkan karya-karya visual mencolok.
Program pameran yang gak ketinggalan, ada Untuk Ruang Seni Anak Museum MACAN. Museum akan menghadirkan Beradu Padu karya Ruth Marbun, seorang perupa asal Jakarta yang karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara manusia, material, dan lingkungan mereka. Memperluas gagasan tentang keterhubungan dan paradoks melimpahnya informasi dalam kehidupan kita, Marbun menciptakan ruang bernapas untuk merebut kembali perhatian, berkreasi, dan merayakan kisah-kisah yang menyatukan kita, seraya mengundang anak-anak dan keluarga ke dalam sebuah ranah refleksi yang mendalam.
Gimana detikers kamu menantikan buat datang lagi ke Museum MACAN?
Simak Video "dGreatisan Museum Macan"
(tia/wes)