Pentas Bukan Cinta Galih/Ratna Sukses Satukan Gen Z dan Boomers
Pentasnya diawali dengan suasana gym di era kala Ratna dewasa yang diperankan oleh Yessy Gusman berjumpa dengan dua sahabatnya, Maudy Koesnaedi dan Metta Ariesta. Mereka mengenang masa-masa SMA bersama teman-teman dan guru-guru di sekolah serta pergi ke disko yang saat itu merupakan tempat hiburan populer.
Salsha Indradjaja sebagai Ratna remaja dan Xavier El Masrur sebagai Galih remaja berhasil membawa penonton baper alias terbawa perasaan, apalagi saat mereka melantunkan Gita Cinta dan Puspa Indah.
Lagu-lagu karya Guruh Sukarno Putra seperti Lenggang Puspita, Anak Jalanan, Keranjingan Disko, dan Jenuh dinyanyikan para penampil dengan gaya apik. Aksi energik bapak-bapak guru yang dimotori model era 80an Elmo Slamet Hilyawan sukses memukau penonton saat membawakan lagu Menyanyi, Menari, Belajar, Bekerja, Berjuang.
Di ending lagu Galih dan Ratna diadaptasi dengan gaya beda. Romansa hadir dengan sentuhan komedi segar dan plot twist anti mainstream. Pemilihan format musikal menyatukan kekuatan cerita dan musik secara emosional.
Pentas Musikal Bukan Cinta Galih/Ratna Foto: Dok.Istimewa |
Sutradara Mikail Edwin Rizki (18 tahun) mengatakan mengangkat cerita lama di tengah perkembangan zaman jadi hal menantang.
"saya lega dan bangga karena pementasan ini bisa berjalan sesuai harapan. Semoga ke depan industri teater musikal kita semakin berkembang dan berani tampil lebih inovatif," ujar Mika katanya dalam keterangan pers yang diterima detikpop.
Usai pertunjukan, Yessy Gusman mengaku pertunjukan yang mengamati pendekatan aktor teater generasi lama dan Gen Z, jadi sorotan. Ada perubahan gaya yang besar.
"Kalau aktor-aktor yang dulu itu kan benar-benar mereka menghafal dan gaya teaternya tuh kelihatan. Sementara aktor-aktor muda membawa pendekatan yang lebih natural dan dekat dengan keseharian. Perbedaan ini justru memperkaya dinamika pertunjukan," tutur Yessy.
Produser Yessi Haryanda mengatakan ide awal pementasan ini terinspirasi dari lagu-lagu Guruh Soekarno Putra. "Lagu-lagu populer era 80-an itu ingin kami perkenalkan kembali melalui format yang lebih dekat dengan selera masa kini. Karena itu kami memadukan dua generasi dalam satu panggung musikal," tukas Yessi.
(tia/tia)












































