Buku-buku Fiksi Jadi 'Raja' di Gramedia Jalma
Tapi tahukah detikers, genre buku apa yang paling banyak dibeli dan merajai pembelian di toko tersebut?
Store Assistant Manager Gramedia Jalma, Serlie Stephanie, mengatakan buku-buku fiksi ada di posisi jawara. "Karena memang (buku-buku fiksi) pasarnya di Jalma ya," katanya saat diwawancarai redaksi detikpop.
Menurut Serlie, di posisi pertama ada novel dengan penjualan lebih dari 31 ribu eksemplar. Ada komik dengan 14 ribuan eksemplar, self improvement dengan 13 ribu eksemplar, buku anak, dan sosial-sains.
Sepanjang tahun novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Krisna juga merajai pembelian di Jalma. Berlanjut ke Laut bercerita karya Leila S Chudori, Sisi Tergelap Surga karya Brian Krisna, Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya yang ditulis dr.ndreamon.
Hal ini terjadi karena karakter pengunjungnya didominasi oleh anak muda dan pekerja urban yang mobilitasnya tinggi. Mereka mencari bacaan yang bisa memberikan dua hal yakni hiburan yang dekat dengan keseharian, dan panduan untuk mengembangkan diri.
Di Gramedia Jalma, mayoritas pencinta buku yang datang berusia Gen Z dan milenial. Banyak pembaca datang setelah beraktivitas di area Blok M dan memilih buku yang bisa dinikmati dengan ringan namun tetap emosional.
Sementara itu, buku-buku self-improvement laris karena relevan dengan kebutuhan generasi muda saat ini, ingin lebih produktif, memahami diri sendiri, dan ingin tumbuh lebih baik, terutama di tengah ritme hidup kota yang cepat.
Selain itu, tren media sosial seperti TikTok dan BookTok juga sangat memengaruhi pilihan mereka. Banyak judul viral yang akhirnya menjadi incaran pembeli.
Foto: Tia Agnes/ detikcom |
Jalma Jadi Melting Pot
Jalma bukan sembarangan nama. Dalam bahasa Sunda, Jalma artinya 'manusia'. Ruang Gramedia Jalma yang direnovasi lebih feminin, estetik, dan vibes kekinian berubah jadi melting pot bagi para pembaca dan pencipta, ide dan ruang, serta jadi ruang berjejaring antar komunitas kreatif di Jakarta dan sekitarnya.
Ruang kreatif ini juga bisa berubah jadi co-working space, reading pod, dan reading pod khusus anak secara nyaman. Ini adalah kreasi kedua bagi penerbit Gramedia setelah kesuksesan Makarya di dalam toko buku Gramedia, Jakarta Timur.
"Yang menyenangkan dari respons publik sejak Jalma buka sampai sekarang sebetulnya ialah bagaimana Jalma direspons sebagai ruang pertemuan bagi banyak orang. Ini sejalan dengan visi kami untuk menjadi "melting pot"," katanya.
Dia pun melanjutkan omongannya, "Maka tentu saja kami merayakan pertemuan-pertemuan tersebut, terlepas dari jumlahnya secara kuantitas pengunjung. Itu kenapa kami pun terus mencoba menghadirkan program-program serta kegiatan yang dapat memberikan pengalaman baru yang bermakna bagi pengunjung ataupun komunitas yang berjumpa di Jalma."
(tia/wes)












































