Review

Teater Bunga Penutup Abad: Duka Pilu Minke dan Nyai Ontosoroh

Tia Agnes Astuti
|
detikPop
Teater Bunga Penutup Abad
Foto: Dok.Titimangsa
Jakarta - "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri." (Pramoedya Ananta Toer)

Suatu hari rumah Annelies kedatangan seorang pemuda. Nyai Ontosoroh menyilakannya masuk setelah putri bungsunya mengenalkan. Minke putra seorang bupati yang aktif menulis pakai bahasa Belanda, menjadi sahabat lawan jenis pertama dari Annelies.

Annelies senang bukan main. Kecupan pertama Minke pada Annelies di hadapan Nyai Ontosoroh buat mereka dapatkan restu sampai ke perkawinan. Tapi Annelies yang berdarah Netherland-pribumi dan Minke yang pribumi, dihalangi banyak tantangan.

Di dalam sebuah kamar, Minke baru tahu Annelies pernah dilecehkan oleh abangnya. Kejadian 6 bulan sebelum pertemuan pertama mereka buat Annelies sempat depresi.

"Kecelakaan itu gak dapat aku elakkan, aku sungguh menyesal. Aku tahu seorang laki-laki yang aku cintai akan bertanya padaku. Aku tetap takut, takut kau tinggalkan," ujar Annelies sambil terisak tangisnya.

Surat demi surat yang ditulis Panji Darma dibacakan Minke di hadapan Nyai Ontosoroh. Adegan berganti pada saat keduanya merindukan Annelies.

"Mevrouw (Nyonya dalam bahasa Belanda) telah sampai ke Netherland. Dia tetap gak bergerak," ungkap Nyai Ontosoroh lirih.

Teater Bunga Penutup AbadTeater Bunga Penutup Abad Foto: Dok.Titimangsa

6 bulan setelah pernikahan Minke dan Annelies, Pengadilan Putih memanggil mereka. Nyai Ontosoroh diadili karena bukanlah istri sah Tuan Mellema, Annelies pun dipaksa harus pulang ke Belanda yang bukan kampung halamannya, dan harta perkebunan harus dikembalikan ke sana.

Jalinan cerita berlanjut, maju-mudur alur silih berganti. Lembaran surat Panji Darma bawa kenangan indah saat Annelies masih di Batavia. Sahabat Minke, Jean Marais pun membuat potret indah tentang Annelies.

"Potretnya lirih, ini jadi karya terbaikku, Minke," ungkap Jean Marais.

Ia pun bertanya lukisannya judulnya apa, dan dijawab lugas oleh Minke. "Bunga Penutup Abad," ujarnya.

Selama 2 jam 15 menit, pencinta karya-karya Pram bakal terbuai oleh kisah pilu tentang Annelies, Minke, dan Nyai Ontosoroh. Perkawinan yang dianggap 'dosa darah' karena mereka bukan sebangsa jadi romansa tragis di dekade 1900-an saat kolonialisme merajalela di Batavia.

Teater Bunga Penutup AbadTeater Bunga Penutup Abad Foto: Dok.Titimangsa

Pramoedya Ananta Toer merekam jejak sejarah dan romansa bangsa dalam cerita yang gak lekang oleh waktu. Nyai Ontosoroh yang lantang meneriakkan ketidakadilan, duka Minke dan Annelies pun terlindas oleh zaman. Di pementasan yang keempat kalinya, Titimangsa berhasil menghadirkan lakon yang singkat, padat, dan penuh makna dalam setiap adegan, gak lagi bertele-tele dan buat penonton ngantuk.

Pemeran yang sama seperti versi teater Bunga Penutup Abad di tahun 2016 jadi jejak bersejarah dalam seni pertunjukan Indonesia. Happy Salma berhasil membuai dengan emosi yang naik-turun, intensitas setiap adegan, dan akting tanpa cela di atas panggung. Jika bertanya siapalah Happy Salma dalam setiap lakon, ia adalah Nyai Ontosoroh.

Bersama Reza Rahadian, Chelsea Islan, Andrew Trigg, dan Sabiya Arifin, kelimanya beraduk dengan maksimal dan penuh totalitas. Teater Bunga Penutup Abad jadi salah satu pertunjukan bergengsi tahun ini.

Teater Bunga Penutup AbadTeater Bunga Penutup Abad Foto: Dok.Titimangsa

Panggung Berputar

Salah satu segmen yang istimewa adalah artistik dengan panggung berputar yang dihadirkan oleh skenografer Iskandar Loedin.

"Kayak bumi berputar, peristiwa berputar gitu. Pertama secara simbolik juga kena, yang kedua mempermudah pergerakan setinggi. Itu sih yang membedakan dengan tahun lalu," ungkap sutradara Wawan Sofwan saat diwawancarai usai gala premier teater Bunga Penutup Abad di Ciputra Artpreneur, Kamis (28/8).

Ceritanya pun diakui Wawan tetap kontekstual di masa sekarang. "Alih wahana ini akan menjadi pemantik bagi generasi muda untuk mengetahui apa itu Bunga Penutup Abad, diangkat dari novel apa, dan siapa pengarangnya. Generasi muda akan semakin mengenal karya-sastra sastra Indonesia lebih jauh lagi," tukas Wawan Sofwan.




(tia/pus)


TAGS


BERITA TERKAIT

Selengkapnya


BERITA DETIKCOM LAINNYA


Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

TRENDING NOW

SHOW MORE

PHOTO

VIDEO