Lutung Kutai (Presbytis canicrus), monyet endemik ini hanya ditemukan di wilayah tertentu di Kalimantan Timur. Populasinya kini terbilang mengkhawatirkan.
Lutung kutai pernah dianggap punah sebelum akhirnya ditemukan kembali pada 2012. Sebaran habitatnya yang terbatas dan berbagai ancaman terhadap kelestarian hutan membuat satwa ini menjadi salah satu primata yang rentan terhadap kepunahan.
Mengenal Lutung Kutai
Lutung Kutai yang disebut juga Kutai langur, lutung berangat, atau lutung drakula, pada tahun 2004-2006 menjadi salah satu primata paling langka di dunia. Penamaan julukan lutung drakula bukan karena hewan ini peminum darah, namun karena warna putih keabuannya yang mencolok di bagian leher hingga dada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama ini diberikan oleh salah seorang jurnalis senior konservasi Kaltim, Awaluddin Jalil, yang pernah mengikuti survei satwa ini di Hutan Lindung Wehea karena terlihat seperti memakai jubah.
Lutung Kutai hanya ditemukan di wilayah timur laut Kalimantan, terutama di sekitar hutan Kutai dan Beriun. Sebaran geografisnya terbatas di sepanjang pesisir bagian tengah Kalimantan Timur.
Dikutip dari akun resmi Balai Taman Nasional Kutai, diketahui Presbytis canicrus hanya diketahui berada di dua lokasi, yaitu di Taman Nasional Kutai dan Semenanjung Sangkulirang (Gunung Talisayang dan Sungai Karangan).
Lutung Kutai tertangkap kamera. (Istimewa/Instagram @btn_kutai) |
Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) mencatat kawasan bentang alam Wehea-Kelay masih menjadi kantong habitat paling aman, termasuk beberapa area perusahaan yang menjaga kawasan High Conservation Value (HCV).
Lutung Kutai memiliki ukuran tubuh sedang dengan ciri khas wajah berwarna abu-abu gelap dan terdapat jambul kecil di atas kepala. Ada garis putih yang membentuk huruf "U" di bawah hidungnya. Bulu tubuhnya kontras antara punggung keabu-abuan dan bagian perut putih kekuningan.
Lutung kutai umumnya hidup secara berkelompok dengan jumlah anggota sekitar 5-12 ekor. Dalam kelompok tersebut biasanya terdapat satu ekor jantan dewasa, dengan rata-rata jumlah anggota kelompok mencapai delapan ekor. Sementara itu, jantan yang tidak tergabung dalam kelompok cenderung hidup menyendiri.
Spesies ini diketahui hidup berdampingan dengan dua jenis monyet daun lain dari genus Presbytis, yaitu lutung merah dan lutung jirangan atau surili berwajah putih.
Makanan utama lutung Kutai berupa daun muda dan pucuk daun. Buah yang belum matang menjadi salah satu sumber makanan penting bagi satwa ini. Selain itu, lutung kutai juga mengonsumsi berbagai makanan lain, seperti telur, biji-bijian, dan bunga.
Keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan tropis yang lebat dan beragam.
Selama 30 Tahun Diduga Punah
Pada tahun 1982-1983 dan 1997-1998, Taman Nasional Kutai dilanda kekeringan dan mengalami kebakaran besar. Lutung ini pun semakin sulit dijumpai, bahkan diduga sudah hampir punah.
Spesies ini awalnya dianggap punah selama hampir 30 tahun. Pada tahun 2012 para peneliti kembali menemukan keberadaannya melalui kamera trap di kawasan hutan konservasi.
Penemuan kembali terjadi pada 2019 di Hutan Lindung Wehea melalui kamera trap, disusul laporan keberadaan di Taman Nasional Kutai dan area lain dalam bentang alam Wehea-Kelay.
Pada bulan Maret 2020, tim dari Taman Nasional Kutai tidak sengaja menjumpai tiga individu lutung berangat yang sedang beraktivitas di atas pohon. Pada tahun 2020 juga, satu individu lutung berangat di lokasi lain terekam kamera trap sedang beraktivitas di lantai hutan.
Selanjutnya pada tahun 2022, satu individu terekam drone sedang meloncat di pepohonan. Dan di awal tahun 2023, kamera trap berhasil mengabadikan kembali perjumpaan dengan dua individu lutung Kutai yang sedang minum pada kubangan air di lantai hutan.
Nasib Populasi Lutung Kutai
Sejak tahun 2008, satwa ini dimasukkan dalam kategori endangered (terancam) oleh IUCN.
Menurut IUCN Red List, lutung Kutai dikategorikan Critically Endangered (Kritis), satu tingkat di bawah punah di alam liar. Populasinya diperkirakan tinggal kurang dari 250 individu dewasa, dan terus menurun akibat deforestasi serta ekspansi industri ekstraktif.
Studi dari Conservation International dan Yayasan Primate Watch Indonesia menyebutkan bahwa Kutai Langur telah kehilangan lebih dari 80% habitat aslinya dalam tiga dekade terakhir. Ancaman terbesar berasal dari pembukaan lahan untuk kelapa sawit, pembalakan liar, serta minimnya perlindungan kawasan hutan sekunder yang mereka huni.
Selain itu, karena langkanya informasi publik mengenai spesies ini, upaya konservasi belum sebesar hewan endemik lainnya seperti orangutan atau bekantan. Meski secara global berstatus terancam, satwa ini belum masuk daftar satwa yang dilindungi di Indonesia.
Dilindungi Masyarakat Adat
Lutung Kutai atau Presbytis canicrus justru bertahan berkat penjagaan masyarakat adat Wehea, salah satu suku dayak yang ada di Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur (Kaltim).
Manajer Kemitraan Program Terestrial YKAN, Edy Sudiono, menuturkan bahwa bertahannya Lutung Kutai tidak lepas dari pengelolaan adat Suku Dayak Wehea sejak 2004. Ini membuktikan pentingnya konservasi berbasis adat.
"Bahwa hutan lindung Wehea, sebetulnya inisiatif awal itu belajar dari pengelolaan hutan lindung di mana-mana yang banyak konflik, banyak klaim, dan banyak illegal logging. Dari sini kita coba bagaimana membangun satu model yang melibatkan masyarakat adat. Ini model pengelolaan berbasis adat yang banyak daerah lain ingin pelajari," kata Edy, dalam arsip liputan detikKalimantan.
Ia mengatakan masyarakat adat menjadi benteng terakhir perlindungan hutan. Terutama ketika ancaman terhadap kawasan konservasi selalu ada.
"Masuk ke hutan Wehea itu dingin sekali, tajuk rapat, sungai bening. Sulit membayangkan dulunya ini kawasan bekas logging. Semua kawasan hutan memang tentunya ada ancaman dan tantangan, maka itu masyarakat adat sebagai benteng terakhir dalam pengelolaan hutan, kita harus tetap dampingi, kita kembangkan untuk menjaga hutan lindung Wehea ini supaya tidak ada gangguan," tegasnya.
Simak Video "Menikmati Malam yang Hidup di Kawasan Tepian, Kalimantan Timur"
[Gambas:Video 20detik] (aau/aau)

