Karhutla di Kabupaten Barito Selatan (Barsel) masih menjadi ancaman serius. Luas lahan yang terbakar sejak awal 2026 mencapai 1.301,99 hektare. Kini Pemkab memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan ekstrem hingga 2 November 2026.
Perpanjangan ini merupakan tahap ketiga sejak status tanggap darurat diberlakukan pada 5 Agustus 2026. Pemerintah daerah menilai penanganan masih perlu diperkuat, terutama karena sebagian besar titik kebakaran berada di kawasan bergambut yang berisiko menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
Kepala BPBD Barito Selatan Agus In'Yulius mengatakan perpanjangan status darurat diperlukan untuk memastikan koordinasi lintas instansi dan pengerahan sumber daya penanganan karhutla tetap berjalan optimal. "Pemkab Barsel telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Karhutla dan Kekeringan Ekstrem sejak 5 Agustus 2026 lalu, dan sampai saat ini telah memasuki masa perpanjangan tahap ketiga, yakni sampai 2 November 2026," katanya, Kamis (22/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Agus, status tersebut juga menjadi dasar untuk mendukung pengerahan personel, peralatan, serta kebutuhan operasional dalam menghadapi kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah. Data BPBD Barito Selatan menunjukkan kebakaran tersebar di enam kecamatan. Dusun Selatan menjadi wilayah paling terdampak dengan 170 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 830,88 hektare. Dusun Hilir berada di urutan berikutnya dengan 21 kejadian yang menghanguskan 165,71 hektare.
Sementara itu, Karau Kuala mencatat 42 kejadian dengan luas 133,36 hektare, disusul Jenamas sebanyak 46 kejadian dengan luas 82,54 hektare. Di Kecamatan Dusun Utara, tercatat 15 kejadian kebakaran dengan luas 74 hektare. Adapun Gunung Bintang Awai mencatat lima kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 15,50 hektare.
"Tren kebakaran juga menunjukkan peningkatan signifikan sejak pertengahan tahun. Pada Juli 2026, luas lahan terbakar tercatat 49,35 hektare, kemudian melonjak menjadi 480,11 hektare pada Agustus," katanya.
Kondisi semakin mengkhawatirkan pada September, ketika luas lahan terbakar mencapai 538,90 hektare. Sementara itu, dalam periode 1-16 Oktober 2026, kebakaran masih menghanguskan 216,525 hektare lahan.
"Tak hanya berdasarkan luas lahan, ancaman karhutla di Barsel juga terlihat dari jumlah titik panas. Berdasarkan data Sipongi+, sebanyak 9.576 titik panas terdeteksi di wilayah tersebut sejak Januari hingga pertengahan Oktober 2026," katanya.
Agus menegaskan penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan posko dan Satgas Karhutla. Peran masyarakat dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru, terutama di tengah kondisi lahan yang rentan terbakar. Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin dan mencegah api meluas," pungkasnya.
