Round-up

Potret Pelajar Bertaruh Nyawa Menyeberang Sungai Kukar

Tim detikKalimantan - detikKalimantan
Minggu, 19 Jul 2026 07:59 WIB
Anak-anak di Kutai Kartanegara pulang sekolah menggunakan kereta gantung melintasi sungai. Foto: Riani Rahayu/detikKalimantan
Jakarta -

Sembilan anak di RT 9 Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) harus mempertaruhkan keselamatan setiap hari demi bisa bersekolah. Mereka terpaksa mengandalkan kereta gantung hasil swadaya masyarakat untuk menyeberangi Sungai Santan.

Kereta gantung ini ditarik secara manual. Dengan akses tersebut, jarak tempuh ke sekolah hanya 350 meter, jauh lebih dekat dibandingkan jika mereka harus memutar melewati jalan raya sejauh 7-8 kilometer.

Hasil Swadaya Warga

Keberadaan fasilitas vital ini tak lepas dari inisiatif warga setempat. Salah seorang warga, Aceng Zainudin (48), mengatakan kereta gantung tersebut dibangun secara swadaya sekitar enam tahun lalu. Pembangunannya berasal dari iuran warga sesuai dengan kemampuan masing-masing.

"Yang punya tanah ini membangun tempat keretanya sekitar Rp 12 juta. Yang lain ikut bantu, ada yang kasih semen, pasir, macam-macam," ujarnya saat ditemui detikKalimantan, Sabtu (18/7/2026).

Menurut Aceng, kereta gantung ini menjadi satu-satunya akses tercepat bagi warga menuju jalan utama. Namun di sisi lain, fasilitas tersebut menyimpan berbagai risiko tinggi. Ia menceritakan bahwa kereta gantung pernah berhenti di tengah sungai saat banjir, tepat ketika sedang mengangkut anak-anak sekolah.

"Kalau hujan dan banjir bisa berhenti di tengah. Anak-anak sudah di tengah sungai. Airnya bisa selutut. Untung waktu itu banyak warga yang membantu," katanya.

Ancaman Buaya dan Cedera

Risiko yang disebutkan Aceng menjadi makanan sehari-hari bagi anak-anak di desa tersebut. Ancaman tidak hanya datang dari derasnya arus, tetapi juga kemunculan buaya yang kerap terlihat di sekitar lokasi penyeberangan.

Putra Aceng, Ade Fahri Maulana, mengaku telah menggunakan kereta gantung sejak duduk di bangku kelas I SD dan kerap diselimuti ketakutan.

"Takut. Kalau banjir saya tidak sekolah karena takut air besar dan keretanya berhenti di tengah. Pernah juga pas nyeberang diikuti buaya. Jadi langsung cepat-cepat tariknya biar cepat sampai," timpal Fahri.



Simak Video "Menjelajahi Pulau Maratua dan Menikmati Spot Snorkeling serta Diving di Kalimantan "


(bai/bai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork