Profil Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJogja
Senin, 09 Mar 2026 11:39 WIB
Potret Mojtaba Khamenei. (Foto: AFP/-)
Jogja -

Pergantian kepemimpinan besar terjadi di Iran setelah wafatnya Ali Khamenei akibat serangan udara Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut terjadi pada hari pertama perang antara Iran dengan kedua negara tersebut, sehingga kematian pemimpin yang telah berkuasa selama hampir empat dekade itu langsung memicu dinamika politik dan keamanan yang besar di dalam negeri.

Menurut laporan The Guardian, pada 8 Maret 2026 lembaga ulama atau Assembly of Experts yang bertugas memilih pemimpin tertinggi Iran akhirnya menunjuk putra kedua Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru Republik Islam Iran. Dalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, lembaga tersebut menyebut keputusan diambil melalui pemungutan suara yang disebut sebagai "decisive vote".

Badan ulama tersebut juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk bersatu di belakang kepemimpinan baru, khususnya di tengah situasi perang yang sedang berlangsung. Penunjukan Mojtaba Khamenei menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya sejak Revolusi Iran 1979 posisi pemimpin tertinggi Iran berpindah dari ayah kepada anak, sesuatu yang memunculkan perdebatan mengenai kemungkinan munculnya pola kepemimpinan yang menyerupai dinasti dalam sistem politik Iran. Bagaimana dengan profil Mojtaba Khamenei? Berikut uraian singkatnya.

Profil Mojtaba Khamenei

Latar Belakang Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota Mashhad, Iran bagian timur laut. Ia merupakan putra kedua dari pemimpin tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei. Menurut laporan The Guardian, Mojtaba tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang sangat dekat dengan dinamika politik Iran sejak masa revolusi Islam.

Menurut penjelasan dari United Against Nuclear Iran, masa kecil Mojtaba berlangsung pada periode ketika ayahnya menjadi salah satu tokoh oposisi terhadap pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi. Pada masa tersebut, keluarga Khamenei beberapa kali mengalami tekanan dari aparat keamanan kerajaan, termasuk penangkapan dan pengasingan terhadap Ali Khamenei.

Setelah keberhasilan Revolusi Iran 1979, posisi keluarga Khamenei berubah secara drastis. Ayahnya mulai memegang sejumlah jabatan penting dalam pemerintahan Iran, termasuk sebagai presiden pada 1980-an sebelum akhirnya menjadi pemimpin tertinggi Iran pada tahun 1989. Perubahan ini membuat Mojtaba tumbuh dalam lingkungan elite politik Republik Islam Iran.

Pendidikan Mojtaba Khamenei

Dalam pendidikan, Mojtaba menempuh pendidikan umum di Teheran sebelum kemudian melanjutkan pendidikan agama. Menurut laporan United Against Nuclear Iran, ia bersekolah di Alavi High School, sebuah sekolah yang dikenal sebagai tempat pendidikan bagi kalangan elite Iran. Banyak tokoh penting Iran yang juga pernah belajar di sekolah tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Mojtaba kemudian melanjutkan studi keagamaan di seminari kota Qom, pusat pendidikan ulama Syiah di Iran. Di kota tersebut ia mempelajari teologi dan ilmu agama di bawah sejumlah ulama konservatif yang memiliki pengaruh besar dalam politik Iran.

Menurut laporan United Against Nuclear Iran, di antara ulama yang pernah menjadi gurunya adalah tokoh ulama konservatif yang dikenal memiliki pandangan keras terhadap Barat dan demokrasi liberal. Lingkungan pendidikan ini turut membentuk pandangan ideologis Mojtaba dalam politik Iran.

Selain pendidikan agama, Mojtaba juga memiliki pengalaman militer sejak usia muda. Menurut laporan Al Jazeera, ia pernah terlibat dalam operasi militer selama Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an. Pada masa tersebut ia bergabung dengan unit yang berafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).

Pengalaman ini membuat Mojtaba membangun hubungan dekat dengan sejumlah tokoh militer Iran yang kemudian hari menduduki posisi penting dalam institusi keamanan negara. Jaringan hubungan yang terbentuk sejak masa perang tersebut dianggap menjadi salah satu fondasi kekuatan politik Mojtaba di kemudian hari.

Meskipun berasal dari keluarga penguasa, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan publik maupun mengikuti pemilihan umum. Namun menurut analisis dari Charles Sturt University, selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai figur yang sangat berpengaruh di balik layar di kantor pemimpin tertinggi Iran.

Mojtaba Khamenei sering digambarkan sebagai penghubung utama yang mengatur akses politik kepada ayahnya, sekaligus sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam jaringan ulama konservatif serta institusi keamanan Iran. Menurut analisis dari The Washington Institute for Near East Policy, Mojtaba selama bertahun-tahun juga dianggap sebagai salah satu tokoh kunci dalam lingkaran dalam kekuasaan Iran, yang berperan dalam menghubungkan institusi ulama, militer, dan birokrasi negara.

Pandangan Politik Mojtaba terhadap Konflik Iran dan AS-Israel

Pandangan politik Mojtaba Khamenei selama ini sering dikaitkan dengan posisi garis keras dalam politik Iran. Menurut analisis dari Charles Sturt University, reputasi Mojtaba dibangun dari kedekatannya dengan jaringan keamanan negara serta sikapnya yang kritis terhadap reformasi politik dan hubungan dengan Barat.

Hubungannya dengan Islamic Revolutionary Guard Corps membuat banyak pengamat memperkirakan bahwa kepemimpinannya akan semakin memperkuat peran militer dalam sistem politik Iran. Selain itu, menurut analisis dari The Washington Institute for Near East Policy, pengalaman pribadi Mojtaba dalam peristiwa kematian ayahnya akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel kemungkinan akan mempengaruhi pendekatan politiknya terhadap kedua negara tersebut.

Lembaga tersebut menilai bahwa Mojtaba kemungkinan akan mengadopsi strategi yang disebut sebagai "defiant consolidation", yakni memperkuat stabilitas rezim melalui kekuatan militer, meningkatkan peran IRGC dalam pemerintahan, serta memperluas penggunaan strategi militer seperti serangan rudal dan operasi asimetris.

Di sisi lain, menurut analisis Charles Sturt University, perubahan kepemimpinan di Iran jarang menghasilkan perubahan ideologi secara drastis. Oleh karena itu, kebijakan luar negeri Iran di bawah kepemimpinan Mojtaba kemungkinan besar akan melanjutkan garis kebijakan yang telah dibangun oleh ayahnya.

Kontroversi dan Kritik terhadap Mojtaba Khamenei

Kenaikan Mojtaba Khamenei ke posisi pemimpin tertinggi Iran tidak terlepas dari berbagai kontroversi politik. Menurut laporan Al Jazeera, kelompok reformis Iran pernah menuduh Mojtaba berperan dalam tindakan keras terhadap demonstrasi yang terjadi setelah pemilihan presiden Iran tahun 2009.

Protes tersebut dikenal sebagai Gerakan Hijau Iran 2009, sebuah gerakan protes besar yang muncul setelah kemenangan kembali Mahmoud Ahmadinejad dalam pemilihan presiden yang dianggap kontroversial oleh banyak pihak.

Para oposisi menuduh aparat keamanan, termasuk pasukan Basij yang berafiliasi dengan IRGC, melakukan penindasan terhadap demonstran. Sejumlah pihak juga menuduh Mojtaba memiliki peran dalam mendukung tindakan tersebut, meskipun ia tidak pernah memberikan tanggapan publik terhadap tuduhan tersebut.

Selain itu, menurut laporan United Against Nuclear Iran, Mojtaba juga pernah dituduh memiliki pengaruh besar dalam proses politik Iran, termasuk dalam pemilihan presiden tahun 2005 yang membawa Ahmadinejad ke kursi kepresidenan.

Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat juga menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba dengan tuduhan bahwa ia bertindak atas nama ayahnya dalam menjalankan sejumlah fungsi pemerintahan meskipun tidak memiliki jabatan resmi di negara.

Proses Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Dalam sistem politik Iran, pemimpin tertinggi tidak dipilih melalui pemilihan umum langsung oleh rakyat. Menurut konstitusi Iran, pemimpin tertinggi dipilih oleh lembaga ulama yang disebut Assembly of Experts.

Menurut laporan Al Jazeera, lembaga tersebut terdiri dari 88 ulama yang memiliki kewenangan untuk memilih pemimpin tertinggi berdasarkan kualifikasi keagamaan, politik, dan kepemimpinan.

Setelah wafatnya Ali Khamenei, lembaga ini segera mengadakan pertemuan untuk menentukan penggantinya. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media pemerintah, Assembly of Experts menyebut bahwa Mojtaba Khamenei dipilih melalui pemungutan suara yang tegas dan meminta masyarakat Iran untuk memberikan dukungan kepada kepemimpinan baru.

Namun menurut analisis dari Charles Sturt University, meskipun konstitusi memberikan kewenangan formal kepada Assembly of Experts, dinamika politik Iran juga dipengaruhi oleh jaringan kekuasaan informal yang melibatkan ulama, militer, dan institusi keamanan negara.

Tantangan Mojtaba Khamenei dalam Memimpin Iran ke Depannya

Sebagai pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei menghadapi berbagai tantangan besar baik dari dalam maupun luar negeri. Menurut analisis dari The Washington Institute for Near East Policy, salah satu tantangan paling mendesak adalah konflik militer yang sedang berlangsung antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Selain konflik eksternal, Iran juga menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat sanksi internasional, inflasi tinggi, serta ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi sosial dan ekonomi negara.

Di sisi lain, legitimasi kepemimpinannya juga menjadi bahan perdebatan. Menurut analisis Charles Sturt University, suksesi dari ayah kepada anak berpotensi menimbulkan kritik karena dianggap bertentangan dengan semangat revolusi Iran yang sebelumnya menolak sistem monarki turun-temurun.

Namun dukungan dari lembaga militer seperti Islamic Revolutionary Guard Corps diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas kekuasaan Mojtaba di tengah berbagai tekanan tersebut.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menjadi salah satu peristiwa politik paling penting dalam sejarah modern negara tersebut. Menurut laporan The Guardian, Al Jazeera, serta analisis dari Charles Sturt University, kepemimpinannya muncul di tengah situasi perang, tekanan internasional, dan perdebatan mengenai masa depan sistem politik Iran.

Dengan latar belakangnya yang kuat dalam jaringan keamanan serta kedekatannya dengan institusi militer Iran, banyak pengamat menilai bahwa arah kebijakan negara di bawah kepemimpinannya kemungkinan akan tetap mempertahankan garis keras sekaligus berupaya menjaga stabilitas rezim di tengah tantangan geopolitik yang semakin kompleks.

Demikian uraian singkat mengenai profil Mojtaba Khamenei yang resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



Simak Video "Video Trump Tak Senang Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran"

(sto/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork