Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) memperketat pengawasan kawasan wisata Gunung Bromo menyusul aktivitas erupsi yang terjadi. Petugas gabungan dari TNI dan Polri disiagakan untuk memastikan wisatawan tidak melewati batas aman yang telah ditentukan.
Kepala BB TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, langkah pengamanan dilakukan dengan mengacu pada rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sosialisasi kepada pengunjung juga telah dilakukan sejak malam sebelum penguatan pengamanan di lapangan.
"Jadi, langkah pertama tentu kita masih menggunakan rekomendasi dari PVMBG sebagai institusi yang memang mempunyai peran dalam pengawasan aktivitas gunung api. Dari rekomendasi itulah kita kemudian melakukan langkah-langkah di lapangan," kata Rudijanta kepada wartawan, Jumat (6/11/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudijanta menjelaskan, petugas telah mempertegas sosialisasi terkait jarak aman kepada wisatawan. Koordinasi dengan aparat TNI dan Polri juga dilakukan sejak malam hari agar pengamanan kawasan lebih maksimal.
"Mulai tadi malam kita sudah melakukan sosialisasi kepada pengunjung karena ada jarak aman yang diperbolehkan. Itu yang kita pertegas lagi dengan petugas-petugas di lapangan, termasuk bersinergi dengan aparat lain," jelasnya.
Rudijanta menyebut, personel TNI dan Polri mulai disiagakan sejak pagi untuk memperkuat pengawasan di sejumlah lokasi, terutama di sekitar batas aman kawasan kawah Bromo.
Ia juga menegaskan, batas aman yang direkomendasikan berada pada radius 1 kilometer dari bibir kawah. Penanda fisik berupa patok telah dipasang di lapangan untuk memudahkan wisatawan mengetahui area yang tidak boleh dilampaui.
"Ada titik aman yang direkomendasikan, jelas 1 kilometer dari bibir kawah. Di lapangan secara fisik sudah ada tandanya, patok-patok yang dipasang di lapangan. Kadang pengunjung foto, itu kan batas aman," tegasnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada perubahan status aktivitas Gunung Bromo berdasarkan rekomendasi PVMBG. Aktivitas wisatawan masih dapat berlangsung dengan syarat tetap mematuhi ketentuan keselamatan.
Rudijanta memastikan, pihaknya akan mengambil langkah cepat apabila terjadi perubahan status aktivitas gunung. Termasuk kemungkinan penutupan kawasan wisata jika hal tersebut diperlukan berdasarkan rekomendasi instansi berwenang.
"Pasti, tentu jika ada perubahan status kita akan memperhatikan itu. Seperti Gunung Semeru, jika ada perubahan status maka kita bergerak cepat mengikuti rekomendasi sampai pada penutupan," ujarnya.
Rudijanta menambahkan, setiap tindakan pengamanan akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan data dan rekomendasi dari pihak yang memiliki kompetensi dalam pemantauan aktivitas gunung api.
Sementara itu, Rudijanta juga menjelaskan kondisi Gunung Semeru yang saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Aktivitas erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut memang tercatat cukup sering terjadi.
"Kalau Semeru erupsi itu hampir tiap hari. Catatan Semeru itu dalam 2026 saja kalau kita lihat di website PVMBG sampai hampir 6 ribu kali, kalau tidak salah tadi saya melihat," ungkapnya.
Rudijanta juga menjelaskan, penutupan aktivitas pendakian Gunung Semeru saat ini lebih berkaitan dengan upaya mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bukan semata-mata karena aktivitas erupsi yang masih berlangsung.
Seperti diketahui, Gunung Bromo mengalami erupsi pada Kamis sore. Berdasarkan pengamatan PVMBG asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis hingga tebal. Tinggi asap teramati sekitar 50-600 meter di atas puncak kawah.
TNBTS mengimbau seluruh wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo agar tidak mengabaikan tanda batas aman dan selalu mengikuti arahan petugas demi menghindari risiko akibat aktivitas vulkanik.
