7 Bunga Khas Jawa Timur yang Keberadaannya Perlu Dilestarikan

7 Bunga Khas Jawa Timur yang Keberadaannya Perlu Dilestarikan

Myesha Fatina Rachman - detikJatim
Rabu, 04 Nov 2026 16:30 WIB
Bunga Rafflesia Zollingeriana bermekaran di Banyuwangi
Bunga Rafflesia Zollingeriana bermekaran di Banyuwangi. Foto: Istimewa
Surabaya -

Jawa Timur memiliki kekayaan flora yang tumbuh di berbagai ekosistem, mulai dari hutan tropis, kawasan pegunungan, hingga savana. Sejumlah tumbuhan memiliki karakteristik unik, bahkan beberapa di antaranya tergolong langka sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap 5 November menjadi salah satu momentum untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan flora dan fauna Indonesia. Peringatan ini mengingatkan pentingnya menjaga habitat alami agar berbagai jenis tumbuhan dapat tumbuh dan berkembang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bunga Khas Jawa Timur

Di Jawa Timur, terdapat sejumlah bunga menarik yang perlu dikenal lebih dekat. Beberapa di antaranya merupakan tumbuhan endemik, sedangkan lainnya memiliki persebaran terbatas dan membutuhkan kondisi habitat tertentu untuk bertahan hidup. Berikut tujuh bunga yang keberadaannya perlu dilestarikan.

1. Padmosari (Rafflesia zollingeriana)

Padmosari merupakan salah satu tumbuhan langka yang menjadi kekayaan flora Taman Nasional Meru Betiri. Tumbuhan dari famili Rafflesiaceae ini merupakan flora endemik kawasan tersebut.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, seluruh jenis Rafflesia, termasuk Rafflesia zollingeriana, termasuk tumbuhan yang dilindungi.

Bunganya memiliki diameter sekitar 15-33 sentimeter dengan jumlah kepala sari mencapai 32-40 butir. Menariknya, bunga menjadi satu-satunya bagian tumbuhan yang dapat terlihat secara langsung karena Padmosari tidak memiliki akar, batang, dan daun yang tampak seperti tumbuhan pada umumnya.

Padmosari juga termasuk tumbuhan berumah dua. Artinya, bunga jantan dan betina tumbuh pada individu yang berbeda. Agar penyerbukan dapat berlangsung, kedua jenis bunga tersebut perlu mekar secara bersamaan.

2. Edelweiss Jawa (Anaphalis javanica)

Edelweiss Jawa merupakan bunga khas pegunungan yang dapat ditemukan di kawasan Gunung Bromo. Tumbuhan ini dikenal dengan sebutan bunga abadi karena bunga yang telah mengering dapat bertahan dalam waktu lama.

Edelweiss Jawa umumnya tumbuh di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sayangnya, keindahan Edelweiss justru membuatnya rentan terhadap pemetikan liar. Sebagian pendaki menjadikannya sebagai kenang-kenangan setelah mendaki gunung.

Padahal, Edelweiss Jawa termasuk tumbuhan yang dilindungi di Indonesia. Di kawasan Gunung Bromo, bunga ini juga memiliki nilai budaya bagi masyarakat Tengger karena digunakan dalam sejumlah ritual adat.

3. Anggrek Tanah (Didymoplexis pallens)

Pulau Bawean menyimpan kekayaan flora yang belum banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah anggrek tanah yang dikenal dengan sebutan ghost orchid. Anggrek ini memiliki penampilan berbeda dari kebanyakan jenis anggrek.

Tubuhnya berwarna putih pucat, rapuh, dan hampir transparan sehingga sulit dikenali ketika berada di antara serasah daun. Anggrek tanah ini hanya muncul sesaat di permukaan tanah ketika kondisi mikrohabitat mendukung pertumbuhannya.

Keberadaannya juga sangat berkaitan dengan kondisi ekosistem hutan. Sebagai tumbuhan mikotrof, anggrek ini bergantung pada hubungan dengan jamur tanah untuk memperoleh nutrisi. Karena itu, keberadaannya juga menjadi bagian dari kekayaan ekosistem hutan di Pulau Bawean.

4. Anggrek Tosari (Habenaria tosariensis)

Jawa Timur juga memiliki anggrek endemik yang tumbuh di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yakni Habenaria tosariensis atau dikenal sebagai Anggrek Tosari. Nama Tosari merujuk pada salah satu daerah di sekitar Gunung Bromo.

Anggrek ini termasuk jenis terestrial atau tumbuhan yang tumbuh di permukaan tanah. Habitatnya berada di savana pegunungan Tengger dan kawasan Jambangan pada ketinggian sekitar 2.000-2.080 meter di atas permukaan laut.

Anggrek Tosari memiliki rangkaian bunga yang dapat mencapai sekitar 50 kuntum. Namun, keberadaannya di kawasan pegunungan Tengger cukup rentan terhadap aktivitas manusia sehingga perlu dijaga kelestariannya.

5. Anggrek Ki Aksara (Macodes petola)

Anggrek Ki Aksara atau Macodes petola dikenal secara internasional dengan sebutan jewel orchid. Berbeda dengan kebanyakan anggrek yang memiliki daya tarik utama pada bunganya, keindahan tanaman ini justru terletak pada bagian daun. Daunnya berwarna hijau gelap dengan corak menyerupai urat-urat berwarna terang.

Anggrek ini termasuk dalam famili Orchidaceae. Genus Macodes memiliki beberapa spesies yang persebarannya mencakup kawasan Asia Tenggara hingga Pasifik. Sementara itu, Macodes petola dapat ditemukan di sejumlah wilayah, seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Thailand, dan Filipina.

Habitat alaminya berada di kawasan hutan hujan yang lembap dengan ketinggian sekitar 100-800 mdpl. Tanaman ini umumnya tumbuh di tempat teduh dengan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhannya.

6. Anggrek Geni (Dendrobium jacobsonii)

Anggrek Geni merupakan salah satu anggrek epifit yang menjadi bagian dari kekayaan flora Jawa Timur. Nama Geni berasal dari bahasa Jawa yang berarti api. Sebutan tersebut merujuk pada warna bunganya yang merah jingga hingga merah menyala, menyerupai bara api di kawasan pegunungan.

Di kawasan tertentu, termasuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, anggrek ini juga dikenal masyarakat setempat dengan sebutan anggrek udang. Bunganya berukuran relatif kecil, tetapi memiliki warna mencolok. Kelopaknya bertekstur tebal, kaku, dan runcing dengan susunan yang terlihat simetris.

7. Coleus Steenisii

Coleus steenisii merupakan tumbuhan langka yang berasal dari Jawa Timur. Tanaman ini termasuk dalam famili Lamiaceae atau keluarga mint yang juga mencakup tumbuhan miana. Tumbuhan tersebut pertama kali dicatat keberadaannya di kawasan hutan Gunung Arjuno, tepatnya melalui jalur pendakian Tretes.

Keberadaan tanaman ini menjadi perhatian karena hingga kini belum berhasil ditemukan kembali spesimen hidupnya di alam liar setelah catatan awal tersebut. Kondisi ini membuat Coleus steenisii menjadi salah satu tumbuhan yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan penelitian dan konservasi flora Jawa Timur.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads